Sumenep-Kominfo News Room : Perhutani Unit II Jawa Timur rencanakan pembibitan pohon jati tahun 2006 di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madura sebanyak 899,960 plant. Ini cukup mengalami peningkatan sekitar 100 prosen dibanding tahun 2005 yang hanya 519.805 plant jati. Selain itu, juga dilakukan pembibitan pohon lain di antaranya, Mahoni sebanyak 243,550 plant, Fengon Buto sebanyak 113,190 plant, Kesambi 327,139 plant, Flamboyan 43.212 plan serta Accau 2.900 plant. Sehingga total rencana pembibitan tahun 2006 sebanyak 1.629.951 plant. Demikian dikatakan Kepala KPH Madura, Ir. Lukman Hakim usai acara menerima Dirut Perhutani Transtoto Handadhari di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kangean Timur Madura, Kamis (18/05). Lukman mengatakan, tahun 2006 ini Perhutani juga melakukan pengadaan benih yang rencananya sebanyak 10,001 Kg. Pembibitan itu terdiri dari pembibitan pada pohon jati, mahoni, kesambi, fengon buto, flamboyan, lamtoro, akasia dan secang. Menurutnya, kawasan hutan wilayah kerja KPH Madura memiliki luas 46,782,20 Ha, yang terbagi atas dua bagian hutan. Bagian itu adalah lima BKPH dan 18 Resort Pemangku Hutan (RPH) yang tersebar di empat wilayah kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Dikatakannya, wilayah Perhutani KPH Madura secara Geografis mencakup eks wilayah Karisidenan Madura yang tersebar kurang lebih 67 pulau dari 46,782,20 Ha. Sementara daratan pulau Madura seluas 8,877,10 Ha atau 19 prosen serta kepulauan Kangean sebesar 37,905,10 Ha atau 81 prosen. Sedangkan fungsi hutan sendiri terdiri dari hutan produksi seluas 25,140,20 Ha atau 53,74 prosen dan hutan lindung 21,642 Ha atau 46,26 prosen. Secara umum keadaan KPH Madura berbeda dengan KPH yang ada di pulau Jawa terutama kondisi iklim dan tanah. Kondisi tanah di sana masuk kriteria tandus dan gersang. Ciri-cirinya, yakni dangkal, sarang, berbatu dan miskin humus serta skala iklim ferguson termasuk tipe iklim C dan D. “Potensi kawasan hutan di KPH Madura seluas 705,11 Ha merupakan hutan suaka alam yang pengelolaannya oleh Balai konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Sedangkan sistem tanaman hutan menggunakan tumpangsari dan banjarharian�, ujarnya. Ia menambahkan, tahun 2006 Perhutani memiliki rencana produksi kayu jati sebanyak 57,7 Ha. Bahkan rencana juga menghasilkan produksi non kayu, yakni kayu putih sebanyak 67 ton dan sampai 12 Mei 2006 baru 5 ton. Sedangkan minyak kayu putih 403 Kg dan sampai 12 Mei 2006 baru terealisasi 29 kilogram. ( Info Jatim, Esha )