Sumenep-Kominfo News Room : Masyarakat diminta untuk selalu mewaspadai bujukan pemakai narkoba. Dengan dalih menghilangkan kepenatan dan sudah tidak lagi memerlukan kelengkapan alat hisap yang mahal harganya. Alternatifnya, alat hisap yang biasanya terbuat dari tabung kaca, kini pemakai juga bisa memakai alat hisap dari bahan kaleng. Hal ini dikatakan Ketua DPC Granat Kota Surabaya, Dra. Arie Sulistiyawati, ditemui saat memperingati Hari Madat Internasional, di Kantor Granat Jl Darmo Surabaya, Senin kemarin (26/06). Kegiatan yang dilakukan anggota dan simpatisan Granat adalah dengan menyebarkan brosur anti narkoba dan kegiatan sosial lainnya, seperti memberikan penyuluhan-penyuluhan ke kampung-kampung. Arie menilai, setiap hari inovasi penggunaan narkoba dirasakannya semakin kreatif saja. Para pemakai tidak henti-hentinya mencari teman barunya. Menurutnya, untuk memakai narkoba, sekarang tidak lagi dengan uang yang cukup besar. Dengan uang pas-pasan saja, sekarang bisa melakukannya. Terbukti beberapa pelajar yang tertangkap berpesta narkoba menunjukkan cara mudah untuk memakai sabu-sabu. Dari pengakuan mereka, menurut Arie, cukup dengan memakai botol kaleng bekas saja, sudah bisa membantu mereka untuk menghisap sabu-sabu. Berarti, selain cara ini, mereka juga masih memiliki seribu macam cara lagi, agar bisa memakai barang-barang haram itu. Selain memiliki seribu macam cara, mereka juga sangat mudah untuk diajak mencoba sesuatu. Karena rasa egonya masih tinggi, ajakan teman terhadap sesuatu yang baru pasti akan dicobanya. Lebih parahnya lagi, kata Arie, bila mereka ketagihan, maka jelas mereka akan cari cara, agar bisa menggunakan barang tersebut. Ini yang mengkhawatirkan semua pihak. Bisa jadi mereka akan nekat berbuat apa saja karena ketagihan narkoba. Disinilah awal dari sebuah kriminalitas. Sejak dibongkarnya jaringan narkoba International di Manyar beberapa waktu lalu itu menunjukkan, bahwa penyebaran narkoba sudah mengancam semua lapisan masyarakat, baik tua maupun muda. Untuk itu, pihaknya akan membantu polisi untuk memberantas narkoba dari kalangan atas hingga ke bawah. Dengan begitu, diharapkannya, jaringan narkoba akan turun. Trend kasus yang terjadi saat ini, setiap tahun selalu menunjukkan angka kenaikan jumlah kasus. Data yang dikeluarkan Satuan Narkoba Polda Jatim dalam setiap tahunnya, sejak 2003 hingga sekarang terus merangkak naik. Tahun 2003, polisi mencatat sebanyak 57 kasus, pada 2004 tercatat 72 kasus, dan 2005 ada 134 kasus. Jumlah ini belum termasuk kasus yang ditangani polisi yang berada di seluruh Jawa Timur, hanya kasus yang ditangani Polda Jatim saja. Kalau ditotal jumlah keseluruhan kasus yang ditangani polisi di Jawa Timur, tercatat tahun 2003 sebanyak 654 kasus, tahun 2004 sebanyak 930 kasus, tahun 2005 sebanyak 1.462 kasus. Dengan jumlah tersangkanya, tahun 2003 ada 971 orang, tahun 2004 sebanyak 1.282 orang, dan pada tahun 2005 sejumlah 2.009 orang. (JNR, Esha )