News Room, Selasa ( 17/05 ) Petani garam Sumenep, mengeluhkan aksi impor garam yang sampai saat ini masih dilakukan oleh perusahaan. Karena, garam impor itu dinilai sangat merugikan petani garam rakyat, dan mengancam harga garam lokal. Ketua Persatuan Petani Garam Rakyat Sumenep (Perras), Hasan Basri menjelaskan, selama ini jenis garam yang diimpor dari luar negeri ke wilayah Madura, bukan kategori kasar melainkan halus. “Nah, harga garam impor halus itu lebih murah. Sebab, prosesnya hampir semuanya menggunakan mesin dan tenaga dari luar. Kalau garam masih impor, maka keberadaan tenaga petani garam rakyat di Sumenep, akan semakin tercekik,”katanya. Kondisi tersebut, menurut Hasan, sangat menyakitkan bagi petani garam rakyat Sumenep. “Padahal, sebelumnya petani garam rakyat Sumenep, masih menggantungkan penghasilnya dari bekerja di perusahaan. Dengan adanya garam impor halus itu, kedepan nasib garam lokal berikut petani garam rakyat diujung tanduk, karena harus mampu bersaing harga dan tenaga dari luar,”terangnya. Sementara itu, Pembina Perras Sumenep, H. Suwarno mengungkapkan, sebenarnya tidak dilarang perusahaan mengimpor garam. Namun pihaknya tetap berharap, agar perusahaan tetap memberdayakan tenaga lokal dalam proses impor garam. “Kami minta perusahaan bisa memperhatikan nasib tenaga lokal dan petani garam rakyat, sehingga masyarakat mempunyai kesempatan mencari penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidupnya,”ungkapnya. Namun, yang diperlukan saat ini adalah campur tangan Pemerintah Kabupaten se Madura, supaya bisa memberikan arahan pada perusahaan garam, untuk tetap memakai tenaga lokal dan memproduksi garam rakyat lokal. ( Nita, Esha )