Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 26-08-2015
  • 544 Kali

Pilkada 2015 Dan Episode Memungut Berkah

News Room, Kamis ( 27/08 ) Meski bukan barang baru, Pemilihan Umum (Pemilu), khususnya di Indonesia, selalu penuh pernak-pernik. Termasuk apresiasi penduduk di dalamnya. Sebagian besar kalangan menganggap Pemilu sebagai sarana terbesar dalam membangun kehidupan berbangsa.

Namun, tak sedikit pula yang bersikap masa bodoh, seperti di antaranya bersikap pasif, golput, dan lain sebagainya. Tahun ini Sumenep akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) atau Pemilihan Bupati (Pilbup). Ada 2 pasang calon (paslon) yang akan beradu nasib. Keduanya akan berlaga tepat tanggal 9 Desember 2015 mendatang.

“Kalau saya pribadi, saya masih bingung mau pilih siapa dalam Pilbup nanti. Yang pasti, nanti saya pilih yang jelas,” kata Wasik, seorang tukang bangunan di Sumenep, pada News Room.

Maksud dari kata jelas menurut Wasik jelas menyisakan tanda tanya. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai ungkapannya itu, Wasik kembali mengeluarkan kalimat bersayap. “Ya, kalau tidak jelas, dari pada memikirkan hal itu saat ini mendingan saya kerja saja atau ke sawah, apalagi sekarang sudah masuk musim panen tembakau,”tambahnya sambil tersenyum.

Ungkapan masyarakat seperti Wasik, banyak ditemui di belahan bumi Sumenep-mungkin juga di Kabupaten lain. Barangkali yang dimaksud memilih calon yang jelas itu ialah calon yang bisa mengucurkan berkah.

Pada hakikatnya, berkah merupakan sesuatu hal yang baik dan positif, tapi lain halnya jika yang dimaksud itu sebagai praktek suap atau money politic.

Namun, bagi rakyat kebanyakan yang buta dengan politik, tentu akan sulit untuk membedakan mana yang benar-benar berkah, dengan berkah yang sebenarnya tidak berkah. Karena ke duanya sama-sama berujud uang, sembako, atau lain sebagainya.

Lain lagi dengan Mahsus, seorang karyawan di Sumenep, setiap Pemilu (Pilpres maupun Pilkada) memang mendatangkan berkah tersendiri. Khususnya bagi dirinya yang sambil lalu nyambi melipat kertas Pemilu.

“Ya lumayanlah, ada tambahan buat beli rokok dan lauk pauk,”katanya tanpa bersedia menyebutkan nominal upah perlembar surat setiap ia melipat sejak berapa kali Pemilu dan Pilkada.

Meski tak banyak, namun Mahsus mengaku selalu menyukuri rejeki yang didapatnya, berapapun banyaknya. “Ya saya yakin, dengan bersyukur, insya Allah rejeki yang kita dapat akan berkah, dan diharapkan akan bertambah,”kata pria yang belum lama ini baru saja melangsungkan pernikahan.

Berdasarkan data KPU Sumenep tahun lalu, tepatnya pada masa Pilpres 2014 kemarin, jumlah hak suara di Kabupaten paling timur di Madura ini mencapai lebih 900.000, atau tepatnya 915.820 suara, sehingga surat suara yang dibutuhkan juga berdasar dan sebanyak angka tersebut.

“Taruhlah misalnya, seorang pelipat mendapat upah Rp. 100,00 per-surat suara, ya tinggal mengalikan saja, seberapa banyak ia mampu melipatnya,”pungkas Mahsus pada media ini sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )