Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 17-07-2007
  • 1043 Kali

Pria Ikut Menentukan Keberhasilan Keluarga Berencana

Sumenep-Kominfo News Room : Program Keluarga berencana (KB) di Jatim sudah mulai membaik. Ini terbukti 75% peserta KB di Jatim merupakan pasangan usia subur. Kenyataan ini tidak lepas dari peran pria sebagai suami yang memutuskan apakah ibu harus ber-KB, atau dirinya sendiri yang mejadi aseptor (Pria ber-KB). Ini otomatis akan membantu menekan laju pertambahan penduduk di Jatim yang kini mencapai angka 37 juta jiwa. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) Jatim, Drs Pranyoto MSi, saat dialog Interaktif di Radio JT FM, Selasa (17/07) mengatakan, peran pria memang sangat menetukan kelangsungan program KB. Ini karena, pria cenderung sebagai pengambil keputusan dalam keluarga, apakah perlu ber-KB atau tidak. Namun demikian, bukan berarti dalam hal ini Pria cenderung sebagai Aseptor KB, karena pria sebagai aseptor KB di Jatim saat ini masih 1,3 prosen. Sejauh ini, kata Pranyoto, 95% masyarakat Jatim memiliki pengetahuan tentang KB. Terutama mengenai baik dan tidaknya pria ber-KB. Ini tidak lepas dari upaya BKKBN dalam melakukan penyulahan atau konseling yang selalu melibatkan kaum pria. Dicontohkannya, jika dulu daerah tapal kuda seperti Pasuruan, Proboliggo dan Bondowoso dikenal dengan prianya yang tidak peduli dengan program KB, kini mayoritas laki-lakinya malah menjadi aseptor. ”Ini artinya, kesehatan bukan hanya milik pria tapi juga milik semu. Untuk itu pengetahuan tentang kesehatan dan KB harus disadarkan pada masyarakat secara terus menerus, karena dengan keikutsertaan pria ber-KB maka beban ibu bisa berkurang,” katanya. Dengan kenyatan itu, dia merasa optimis jika pertumbuhan penduduk Jatim akan turun maksimal 1 persen pada 2007 ini. ”Jika dibarengi dengan penataan lembaga-lembaga BKKBN di Kabupaten/Kota yang efektif, maka program ini diharapkan bisa sukses. Karena dengan lembaga yang tertata program-programnya, KB akan dapat berjalan dengan baik. Selain itu petugas penyuluh KB di lapangan tugasnya akan menjadi jelas,” ujar Pranyoto. Kepala Dinas Kependudukan Jatim, Ir Susilo Sugiono mengatakan, Jumlah penduduk perempuan di Jatim lebih tinggi dari pada jumlah prianya. Dari usia 15-25 tahun yang sudah menikah sebanyak 10 juta lebih. Pada usia ini harus diperhatikan penuh dalam segi pengetahuan berumah tangga dan kesehatan keluarga. Ini menentukan kualitas penduduk Jatim di masa depan. ”Perhatian ini sangat diperlukan karena terkait dengan laju penduduk di Jatim juga,” ujar Susilo. Saat ini Pemprop Jatim telah menargetkan laju pertumbuhan penduduk yang saat ini mencapai 1,1 persen, pada 2007 harus turun menjadi maksimal 1 persen. Untuk memaksimalkan program itu pemerintah kabupaten/kota harus mengefektifkan kembali organisasi/lembaga dinas, badan dan kantor BKKBN seperti dulu. Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jatim, Hj. Sukaeni Sukir, S.Pd, M.Kes menuturkan, adanya program KB di Jatim yang mulai membaik, memang terbantu dengan keikutsertaan KB yang rata-rata merupakan pasangan subur yakni pada usia 15-25 tahun. Hal itu memang tidak lepas dari peran suami dan bidan. Dikatakan Sukir, suami siaga tidak dilakukan hanya menjelang ibu melahirkan, namun juga pada pemeriksaan kehamilan sebelumnya. Bahkan suami siaga dilakukan hingga proses tumbuh kembang bayi. Untuk itu, saat ini diterapkan pada proses kelahiran sang ibu yang harus ditemani suami, begitu pula saat menyusui. ”Jika dulu saat melahirkan suami harus berada di luar, kini tidak. Suami harus berada di samping ibu untuk mensuport, sehingga si bidan tidak perlu mencari-cari si ayah,” tutur Sukir. Selain itu, kata Sukir, ketepatan dan kecepatan penanganan kelahiran sangat diwarnai kompetensi bidan. Saat ini sudah ada 10.646 anggota IBI di Indoensia yang ditugaskan ke daerah-daerah. Ini merupakan bagian upaya pemerintah dalam menggalakkan bidan desa dan desa siaga. Jumlah peserta KB Baru – Pria (yang terdiri dari Medis Opersi Pria/MOP dan Kondom) di Jatim periode 2006, sebanyak 10.092 peserta atau 1,16 % terhadap total jumlah peserta KB lama atau PB-SM. Sementara secara nominal, jumlah peserta KB baru atau PB-MOP mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni pada 2005 mencapai 8.373 peserta KB Pria. Peningkatan jumlah PB-MOP dan kondom tersebut menunjukkan bahwa program Komunikasi, Informasi dan edukasi (KIE MOP) yang dilakukan oleh petugas sudah mulai diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat dikatakan bahwa pengarusutamaan gender dalam ber-KB mulai dipahami oleh kaum laki-laki Sejak 2005, sasaran KB-pria di Jatim memang ditagetkan menjadi 1,0%. Yang terdiri KB vasektomi 0,45% dan kondom 0,55%. Dasaran ini dapat tercapai apabila dalam operasionalisasinya mendapat dukungan penuh dari pemerintah, tokoh agama dan masyarakat. Untuk itu dikembangkan langkah-langkah pengembangan materi dan media KIE spesifik KB-pria. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan partisipasi pria atau suami terhadap program KB melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku. Selain itu juga meningkatkan pelayanan KB bagi pria atau suami dalam rangka mewujudkan keluarga berkualitas 2015. ( JNR,Esha )