Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 06-09-2006
  • 414 Kali

PRODUKSI SURPLUS, PEMPROP JATIM TOLAK BERAS IMPOR

Sumenep-Kominfo News Room : Pemerintah Propinsi Jawa Timur menolak datangnya beras impor, karena produksi beras sampai akhir Juli 2006 mengalami surplus hingga dua juta ton lebih. Kebijakan ini sekaligus untuk melindungi para petani serta menjaga kestabilan harga beras di Jawa Timur. Sekretaris Daerah Propinsi Jatim, Dr. H. Soekarwo, SH, M.Hum usai seminar nasional ?Ketahanan Masyarakat Jatim Menghadapi Ekonomi Nasional? yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim di Hotel Garden Palace Senin kemarin (04/09) menegaskan, jumlah kebutuhan beras masyarakat Jatim setiap tahunnya mencapai tiga sampai empat juta ton. ?Hingga akhir Juli kemarin kami mengalami surplus beras hingga 2,2 juta ton dengan peningkatan produktivitas sebesar 0,75 prosen?, tuturnya. Untuk menghindari beras impor selundupan, pihaknya terus melakukan pemantauan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim di beberapa tempat. ?Meskipun beras impor belum datang, namun kami tetap melakukan pengawasan. Jika tiba-tiba ada kenaikan harga, kami akan melakukan operasi pasar?, katanya. Pada triwulan ketiga (September-Desember) 2006 diprediksi jumlah produksi padi Jatim sebanyak 1.047,981 ton, dari luas area panen 194,987 hektare dengan tingkat produktivitas 53,73 kuwintal/hektare. Pada triwulan satu (Januari-April) produksi padi 5.160.336 ton, sedangkan triwulan kedua (Mei-Agustus) diprediksi 2.977,599 ton. Pada 2006, produk padi diprediksi mencapai 9.185,916 ton, surplus beras akhir Juli lalu juga didukung surplus beras secara nasional. Departemen Pertanian memprediksi, hingga akhir 2006, Indonesia kelebihan produksi (surplus) beras sekitar 122 ribu ton. Kondisi ini didasarkan atas perhitungan angka ramalan ke 2 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tanggal 3 Juli lalu. Angka surplus ini diperoleh setelah dilakukan perhitungan antara perkiraan produksi padi nasional dan total konsumsi beras. ( JNR, Esha )