News Room, Selasa ( 08/03 ) Puluhan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sumenep, Selasa (08/03) pagi berunjuk rasa di Gudang Badan Usaha Logistik (Bulog) setempat. Mereka memprotes kualitas beras untuk warga miskin (raskin) yang dinilai jelek. Sikap itu ditunjukkan dengan menabur beras tersebut di depan Gudang Bulog. Korlap aksi, Edy Juanedi menjelaskan, beras yang dibagikan kepada warga miskin itu sangat tidak layak, warnanya kuning dan agak kehitam-hitaman. “Beras tersebut layak dibuang dibanding diserahkan kepada warga miskin. Kami minta bulog untuk secepatnya menarik dan mengganti beras yang tidak layak tersebut,”kata Edy, ketika berorasi didepan Gudang Bulog Sumenep, Selasa (08/03). Semestinya raskin yang diberikan pada penerima manfaat sesuai kualitas. “Nah, kalau kualitas raskin jelek, berarti tidak ada gunanya Tim Analisa mutu beras. Ya bubarkan saja Tim Analisa,”terangnya. Selain itu, para pendemo juga menyoroti menyusutnya beras yang diterima masyarakat miskin. “Seharusnya satu karung berisi 15 kilogram, tapi kenyataannya raskin yang sampai ditangan masyarakat, susut. Itu pun bervariasi, ada yang tinggal 12 kilogram, bahkan ada 10 kilogram,”ungkapnya menerangkan. Setelah puas berorasi, 5 perwakilan massa diperkenan masuk ke dalam gudang Bulog, untuk berdialog bersama pimpinan Bulog Sumenep. Sementara, Kepala Gudang Bulog Sumenep, Sulkan membantah jika raskin yang diberikan berkualitas jelek. Namun sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan. “Kami rasa raskin itu bukan kualitas super, tapi juga bukan kualitas jelek. Itu sudah standar kok. Soal warnanya yang kuning, itu merupakan jenis berasnya. Beras di Madura kan beda dengan Jawa. Karena struktur tanahnya beda. Kadar airnya juga beda,”ujarnya. Kemudian, terkait susutnya beras, Sulkan memastikan tidak terjadi di Gudang Bulog. “Sebelum didistribusikan, kami sudah timbang semua beras di gudang, dan pasti sesuai dengan timbangan. Apalagi penyimpanan raskin, sudah samhat hati-hati dan mengantisipasi serangan kutu beras. Jadi beras-beras itu kami masukkan gudang tertutup, kami semprot dengan anti kutu beras. Itu memang protapnya,”pungkasnya. Untuk itu, pihaknya meminta agar warga menjelaskan, mengambil dimana beras tersebut. “Tolong jelaskan beras itu dari mana dan kapan. Baru kita bisa lihat, dimana kesalahannya,”tuturnya. ( Nita, Esha )