News Room, Rabu ( 06/05 ) Naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global, menjadi ancaman serius bagi perbatasan Indonesia. Pemerintah mengestimasi bahwa saat ini sejumlah titik terluar wilayah Indonesia yang dibatasi dengan 92 pulau terancam bergeser. Itu disebabkan pulau-pulau kecil yang selama ini menjadi titik perbatasan itu tenggelam. “Kalau untuk pulau-pulau terluar, ada penanganan khusus. Jadi batas perairan kita tidak akan berubah karena perubahan iklim,†kata Dirjrn Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Syamsul Maarif di Jakrta, kemarin (05/05). Pemerintah, kata dia, akan berusaha keras mempertahankan 92 pulau terluar tersebut untuk mencegah bergesernya wilayah NKRI serta zona ekonomi ekslusif (ZEE) Indonesia. Dia lantas mencontohkan Pulau Nipah yang dulu nyaris hilang akibat penambangan pasir liar. “Sekarang 60 persen sudah kembali, sehingga batas perairan kita di kepulauan Riau tidak berubah,â€Âujarnya. Namun, terangnya, biaya reklamasi pulau-pulau tersebut tidak bisa terbilang murah. Pemerintah, kata dia, telah mengeluarkan dan sebesar Rp. 400 milyar hanya untuk mereklamasi Pulau Nipah yang dimulai sejak tahun 2005. Syamsul Maarif mengatakan, dampak perubahan iklim memang sangat berbahaya. Bahkan, diprediksi akan ada 17.840 pulau di seluruh wilayah Indonesia yang terancam tenggelam. Dan, 92 pulau yang disebut diatas termasuk didalamnya. Saat ini pemerintah mengupayakan mitigasi bagi 17.480 pulau itu. “Kita lakukan secara soft maupun secara hard. Yang paling penting adalah pulau-pulau yang berpenduduk dulu yang diselamatkan,â€Âtambah Syamsul Maarif. ( JP, Esha )