News Room, Jumat ( 01/05 ) Kepala Puskesmas Kecamatan Dungkek, yang diwakili perawat seniornya, H. Sujito, Kamis kemarin (01/05), melakukan penyuluhan pencegahan penyakit diare, sekaligus sosialisasi penanganan dini diare, di desa Bancamara dan Banra’as. H. Sujito di kesempatan tersebut menjelaskan, hingga saat ini terdapat 4 penderita diare yang terdeteksi di dua desa tersebut, sehingga pihaknya harus segera turun agar tidak merebak menjadi wabah. Ia juga secara detail Diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau parasit. Diare dapat juga disebabkan oleh malab- sorpsi makanan, keracunan makanan, alergi ataupun karena defisiensi. Bahaya utama diare menurut Sujito, adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dehidrasi. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang bergizi buruk, karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. “Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya dengan cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi. Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar bersama tinja dengan cairan yang memadai melalui oral atau parentera,†ungkap Sujito. Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air tajin, air susu ibu, air teh encer, sup wortel, air perasan buah dan larutan gula garam (LGG). Pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi. Sedangkan bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaik nya diberi minuman Oralit. Oralit yang menurut WHO mempunyai komposisi campuran Natrium Klorida, Kalium Klorida, Glukosa dan Natrium Bikarbonat atau Natrium Sitrat sekarang dijual dengan berbagai merek dagang seperti Cymatrolit, Eltolit, Ottolyte, Kritallyte dan Aqualite mengandung komposisi yang sama. “Sedangkan penyuluhan dilakukan adalah untuk menghilangkan perilaku masyarakat yang negatif yang tanpa disadari membantu penyebaran kuman diare, anjuran buang air besar di jamban, memasak air yang diminum, melindungi makanan minuman dari lalat, debu dan kotoran lain, menjaga kebersihan kuku, mencuci tangan sebelum makan, pemberian ASI sampai anak mencapai 2 tahun,†tegas Sujito. Selanjutnya hal lain yang menjadikan penyuluhan menjadi penting dilakukan adalah untuk menguatkan perilaku masyarakat yang mendukung penggunaan Oralit atau cairan rehidrasi oral lainnya untuk mencegah dehidrasi dan menanggulangi dehidrasi. ( JuP-16, Adjie )