News Room, Kamis ( 16/06 ) Tidak tertebusnya beras untuk rakyat miskin (raskin) di 7 Kecamatan di Sumenep, dianggap kurang transparannya para Kepala Desa dimasing-masing Kecamatan tersebut. Anggota Komisi B DPRD Sumenep, Sanhaji Darmadi menjelaskan, jika Kepala Desa melaksanakan distribusi raskin secara transparan, tidak mungkin akan terjadi kelambatan penebusan. Alasan tidak terkumpulnya dana untuk melakukan penebusan oleh pihak kecamatan itu bukan alasan yang kuat, karena jika pelaksanaan distribusi raskin disampaikan kepada warga yang berhak secara utuh, mustahil warga tidak membayarnya. “Itu cuma akal-akalan saja kalau memang pihak Kecamatan beralasan tidak terkumpulnya dana untuk menebus. Itu dampak dari tindakan Kades yang tidak transparan. Kalau memang raskin itu disampaikan secara keseluruhan pada yang berhak, pasti warga membayarnya. Bahkan ditarik uang duluan akan mau mereka,”kata Sanhaji, di kantor DPRD Sumenep, Kamis (16/06). Sanhaji menilai, perlu adanya perubahan pola penebusan raskin, karena prosedur distribusi raskin selama ini tidak maksimal dengan indikasi penebusan tidak lancar. “Ini patut diperhatikan oleh pemerintah kabupaten Sumenep, dengan melakukan evaluasi bagaimana juknis raskin tersebut. Saya pribadi, perlu adanya perubahan pola penebusan raskin,”terangnya. Sanhaji berharap, kurangnya transparansi kades dalam penanganan raskin ini tidak terjadi terlalu lama sehingga banyak warga miskin yang menjadi korban. Pemerintah kabupaten harus mempunyai langkah kongkrit untuk mengantisipasi hal itu. “Jangan biarkan penebusan raskin itu tersendat-sendat. Karena, raskin itu sangat dibutuhkan bagi waga miskin,”ungkapnya. Sebelumnya, sedikitnya ada 7 Kecamatan yang belum benebus raskin pada bulan Mei 2011 lalu. 7 Kecamatan itu antara lain, Kecamatan Kota Sumenep, Batuputih, Kangayan, Lenteng, Manding, Masalembu, dan Saronggi. Dari kuota raskin bagi warga kurang mampu dikabupaten Sumenep yang mencapai 2.186.820 ton itu hanya sekitar 1.459.620 ton raskin yang baru terserap dimasyarakat, sehingga sekitar 727.210 ton menumpuk digudang penyimpanan Bulog. ( Nita, Esha )