News Room, Selasa ( 12/06 ) Meskipun cuaca kemarau tidak menentu, kecenderungan petani tembakau tetap nekad memilih tanam tembakau. Sebab, masyarakat banyak beranggapan musim kemarau cocok untuk tanam tembakau, karena bisa meraih keuntungan yang amat besar sekalipun banyak resikonya. Kepala UPT Pertanian Kecamatan Guluk-guluk, Suryadi, SP mengungkapkan, sebenarnya untuk menanggulangi risiko gagal tanam, masyarakat petani bisa memakai tanaman sistem multi kultura. Yakni, tidak hanya menanam tembakau saja, namun bisa menanam padi untuk daerah persawahan, menanam lombok, kedelai, dan bawang merah di tegalan, dan tegal gunung. “Kami selalu memberikan penyuluhan agar petani mampu memilih areal yang pantas ditanami tembakau dan yang pantas ditanami tanaman lain. Sehigga, produktifitas hasil pertanian masyarakat petani tetap terjaga,”ujarnya. Artinya tegas Suryadi, dari satu sisi petani mendapat keuntungan dan di sisi lain bisa tetap menjaga komoditas pertanian, agar tidak sampai kekurangan pangan. Sebab, jika areal pertanian dan persawahan sudah tereliminasi dengan tanaman perkebunan, dikhawatirkan terjadi kekurangan pangan. Suryadi bersyukur, masyarakat Kecamatan Guluk-guluk sendiri sudah mulai sadar tentang sistem multi kultural. Sebab, dimusim kemarau tanaman padi sudah mencapai 100 hektar, sedang bawang merah 8 hektar dan lombok 10 hektar. “Jadi, misalnya tanaman tembakau anjlok dimusim kemarau ini, masih ada harapan untuk mendapat penghasilan dari tanaman yang lain,”tambahnya. Diakui, antisipasi tersebut dilakukan melalui temu Gapoktan yang berjumlah 36 orang, yang laksanakan setiap bulan di Kantor UPT Pertanian Guluk-guluk. Jadi, sekitar 135 Kelompok Tani kedepan ada harapan untuk menjadi kelompok yang bagus dan bisa mengetrapkan hasil program untuk meraih keuntungan lebih banyak. ( Ren, Esha )