Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 01-11-2006
  • 536 Kali

SAJAK DAPAT MEMBENTUK KETAJAMAN NURANI PEMIMPIN

Sumenep-Kominfo News Room : Salah satu indikator keterpurukan bangsa Indonesia adalah karena para pemimpin kurang memaknai peran sajak, yang sesungguhnya dapat membentuk watak dan kepribadian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Sajak dapat membentuk ketajaman nurani dan kepekaan terhadap cita-cita dan harkat kepemimpinan," kata Ketua Umum Yayasan Panggung Melayu, Asrizal Nur, yang juga Ketua Penyelenggara Diskusi Publik dan Pembacaan Sajak yang bertemakan "Dengan Sajak Menuju Bangsa Bermartabat". Kepada pers di Depok, Selasa (31/10) kemarin, Asrizal menyampaikan keprihatinannya pada kondisi dan situasi kehidupan berbangsa dan bernegara, di mana saat ini banyak para pemimpin tidak menyentuh kepentingan cita-cita menyejahterakan rakyat. "Sajak akan membuka nurani yang tertutup, hati yang membantu dan sajak akan menuntun cara bertutur yang santun dan bermartabat. Sajak juga dapat berfungsi sebagai kontrol sosial," kata Asrizal. Menurut penyair Melayu yang tinggal di Depok ini, pada zaman dulu, raja yang adil dan bijaksana senantiasa berdekatan dengan penyair dan mendengarkan sajak-sajak yang disampaikan untuk diambil petuahnya. Sajak juga pada zaman dahulu, digunakan selain sebagai pelipur lara, juga sebagai sarana mengkritisi penguasa. Tapi bagi penguasa yang zalim, penyair akan menjadi musuhnya. Asrizal mencontohkan banyak penyair pada masa Orde Lama hingga Orde Baru yang menjadi korban kezaliman itu antara lain WS Rendra, Pramudya Ananta Toer, Wiji Tukul, dan Asrizal Nur. Penyair telah banyak memberi investasi dalam pencerahan pada bangsa ini. Ia prhatin dengan kondisi hubungan antara penyair dan penguasa saat ini yang tidak seiring sejalan, bahkan keberadaan penyair sudah terlupakan. Asrizal mengangkat sajak Melayu karena sajak selalu melekat dalam kehidupan masyarakat Melayu. Sampai kini, di tanah Melayu seperti di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan sebagian Kalimantan, contoh yang baik bagi perkembangan sajak. Di Tanah Melayu, sajak selalu ada tempat di hati para pemimpinnya sehingga tidak terlalu sulit mengembangkan kreativitas. Menurut Asrizal, penyair pada hakikatnya seorang intelektual yang memiliki intuisi tajam. Ia melihat banyak daerah yang berpotensi besar dalam dunia sastra terutama sajak, tapi para pemimpinnya sangat tidak peduli. ( KCM, Esha )