Media Center, Selasa ( 31/10 ) Kesenian
Sintung rupanya tidak banyak dikenal masyarakat Madura khususnya di Kabupaten Sumenep. Namun, kesenian Sintung ini rupanya kembali
diminati oleh para peseni sintung di Desa Ambunten Tengah Kecamatan
Ambunten Kabupaten Sumenep.
Ketua Kesenian Sintung asal Desa Ambunten
Timur, Nurrahman kepada Media Center, Selasa (31/10)
mengungkapkan, pihaknya bersama teman-teman seniman sintung mulai
mencoba untuk menampilkan kembali kesenian yang sempat hilang beberapa
tahun di beberapa acara khususnya di Kecamatan
Ambunten dan sekitarnya.
“Namun setelah banyak yang mengetahui adanya
kesenian Sintung ini mereka penasaran dan minta kami tampil di beberapa
acara termasuk di Pendopo Agung Keraton Sumenep ini.” ungkapnya di
sela-sela akan tampil dalam rangka kegiatan Sidang Paripurna Hari Jadi
Kabupaten Sumenep ke 748 di Pendopo Agung Keraton Sumenep yang sekaligus
menyambut tamu kehormatan Duta Besar (Dubes) Arab Saudi
untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah
Al-Shuaibi.
Bahkan, Nurrahman sangat bangga ketika mendapat
kehormatan tampil di Pondok Pesantren An-Nuqayah Guluk-guluk pada saat
menyambut kedatangan Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo
belum lama ini.
Diakui Nurrahman, jika kesenian Sintung sudah
mendapat banyak respon para ulama dan kiai khususnya di Kecamatan
Ambunten dan sekitarnya. Sebab, kesenian Sintung pada intinya banyak
melantunkan Sholawat Nabi Asrabul Anam, yang merupakan Shalawat
terlengkap.
“Sholawat Nabi yang dilantunkan pada kesenian Sintung
memang berbeda dengan yang biasa dilantunkan pada kesenian Hadrah,
termasuk alat musiknya juga berbeda.”jelasnya.
Lebih lanjut Nurrahman
menjelaskan, jika alat musik Sintung sangat sederhana, yakni berupa 2
gendang dan 1 getuk dengan personal sebanyak 30 orang.
Pihaknya
berharap, pemerintah juga ikut memperhatikan keberadaan sintung yang
saat ini masih satu-satunya yang ada di Sumenep. ( Ren, Fer )