News Room, Rabu ( 11/03 ) Kesulitan hidup tidak hanya dialami oleh masyarakat kepulauan yang kesulitan untuk pulang ke tempat tinggalnya di Kepulauan, karena tidak ada kapal yang bisa berlayar. Namun, kesulitan yang dialami Masrawi (60th) Warga Desa Kacongan Kecamatan Kota memang berbeda namun sama-sama kesulitan. Hanya saja kesulitan yang dihadapinya berbeda dengan mereka. Namun, tingkat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya juga sama. Sebab, dalam beberapa hari utamanya sejak musim hujan usahanya hampir sebagai penjual bambu menurun drastik dibandingkan musim kemarau. “Apalagi setelah bulan Agustus yang ramai-ramainya pembeli, bila dibandingkan dengan penjualan bambu saat ini hampir tidak sampai 30 persennya.”akunya. Sebab, menurut bapak dua anak yang masih tampak kuat diusianya yang mulai senja ini, pelanggan jarang membeli bambu karena memang dimusim hujan orang kebanyakan tidak banyak yang membutuhkan bambu. Sementara dirinya setiap hari harus tetap bekerja untuk menghidupi istri dan anaknya. Memang, jika dibandingkan dengan hari-hari pada musim kemarau biasanya satu gerobak bambu bisa habis sehari bahkan kadang habis ditengah jalan. Namun, saat ini terkadang tiga hingga empat hari satu gerobak masih tersisa dan akhirnya terpaksa dijual murah bahkan dihutangkan dahulu kepada pelanggannya. Penjual bambu yang setiap hari mendorong bambu dengan gerobak dari Kota ke Kalianget dan mangkal di alun-alun Trunojoyo Kalinget Timur ini, mengaku sudah banyak dikenal orang khususnya yang menjadi pelanggannya. Sehingga, memang sulit untuk ditinggalkan selama tidak ada pekerjaan lain yang bisa dijadikan sandaran hidupnya. Profesi yang sudah dijalaninya lebih 30 tahun ini menurut Masrawi memang kadung sudah ditekuninya, dan sepertinya meskipun hasilnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan bekerja sebagai tukang maupun pekerja buruh lainnya. Namun, itu sudah dianggap jalan hidupnya. “Yang penting halal, dan dapur bisa terus mengepul. Saya pasrah saja dan saya tetap bersyukur istri dan akan saya tetap bisa makan dan bahkan bisa sekolah di perguruan tinggi,”tambahnya pasrah. Hanya saja ungkap Masrawi, berharap ada program dari Pemerintah maupun lembaga peduli lainnya, yang bisa memperhatikan profesinya. Sebab, berbagai bentuk bantuan seperti bantuan yang ada biasanya kepada petani, pengrajin, nelayan dan sebagainya. Sementara untuk pedagang bambu sepertinya belum pernah tersentuh. “Ya, mudah-mudahan harapan saya bisa jadi kenyataan kelak entah dalam bentuk mudal usaha maupun fasilitas lainnya,”pungkasnya dengan senyum pasrahnya. ( Ren, Esha )