News Room, Selasa ( 13/09 ) Sebagian pihak menganggap perbedaan ejaan yang tak kunjung diseragamkan menghambat perkembangan bahasa Madura. Namun, sebagian lagi tak mempermasalahkan itu, dianggap sebagai pilihan dan memerdekakan bahasa. Namun dalam teknis pembelajaran, tidak adanya keseragaman ejaan masih kerap menelorkan masalah.
"Dua pihak yang tak ketemu ini memang suatu saat harus ketemu. Bagaimana solusinya. Karena bahasa Madura juga diajarkan di sekolah,"kata R. Moh. Muhlis, salah satu pengamat bahasa Madura di Sumenep.
Secara pribadi Muhlis sepakat dengan penyeragaman ejaan. Setidaknya di dunia pendidikan. Karena hal itu berhubungan dengan literatur. "Nah, literatur kan tidak satu pengarang. Dan pengarang itu juga tak menutup kemungkinan lain pendapat dalam hal ejaan,"kata guru SD kepulauan ini.
Oleh karena itu Muhlis berharap ada pihak yang turun langsung untuk mengatasi masalah tersebut, karena siswa yang akan dibingungkan. "Jadi, perlu setidaknya penyeragaman buku paket. Kalau memang sudah tak bisa penyeragaman ejaan," pungkasnya. ( Farhan, Esha )