Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 04-03-2009
  • 1181 Kali

Semangka Hibrida, Sebagai Komoditas Alternatif

News Room, Rabu ( 04/03) Terkenal sebagai penghasil gula siwalan dan kelapa, Kecamatan Batang-batang juga mempunyai komoditas tanaman alternatif. Saat ini masyarakat Kecamatan Batang-batang, khususnya Desa Lombang, bisa bercocok tanam semangka hibrida, yang ternyata memang cocok dengan kondisi tanah wilayah tersebut. PPL UPT Dinas Pertanian Kecamatan Batang-batang, Suhada dan Ashari, saat ditemui News Room disela kesibukannya memberikan penyuluhan seputar budidaya semangka hibrida di Desa Lombang, Rabu (04/03), mengatakan, terdapat tanaman semangka yang spesifikasinya cocok dengan kondisi lahan di Kecamatan Batang-batang. “Tanah di Lombang cukup asupan airnya, sehingga, tanaman bisa tumbuh berkembang dengan baik. Apalagi di musim hujan,”ungkap Suhada. Pada musim panen, dalam 1 hektarnya bisa menghasilkan 20 hingga 30 ton buah semangka hibrida, dengan populasi mencapai 5.000 buah. Kisaran harga saat dilepas di pasaran Madura dan Surabaya antara Rp. 850,00 hingga Rp. 1.100,00 per-kilogram. Sedangkan modal untuk 1 hektarnya bisa mencapai Rp. 10 juta, sudah termasuk biaya tenaga kerja. Tentang cara tanam semangka hibrida, Ashari menjelaskan, ada dua cara yang bisa dilakukan, yaitu cara tanam tradisional dengan memanfaatkan tanah sulit air atau tadah hujan di sekitar areal kebun kelapa. Sedangkan cara tanam yang kedua adalah di lahan dengan serapan air tanah sedalam 1 hingga 2 meter, dan memanfaatkannya untuk penyiraman. Dan untuk di Desa Lombang, terdapat 50 hektar lahan yang bisa ditanami semangka jenis ini. “Selain di Desa Lombang, daerah lain juga berpotensi untuk menanam semangka hibrida, seperti di Desa Tamansare, Lapataman, dan Desa Bungin-bungin, Kecamatan Dungkek, dan sebagaian di Desa Dapenda Kecamatan Batang-batang. Intinya, untuk Kabupaten Sumenep terdapat kurang lebih 400 hektar lahan, untuk memenuhi komoditas alternatif ini,”kata Ashari. ( JuP-18, Adjie)