News Room, Kamis ( 31/10 ) Sidang Paripurna dalam ranga Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke 744, pada Kamis (31/10) pagi, berlangsung Istimewa. Seluruh pegawai negeri sipil (PNS) hingga para undangan termasuk pejabat yang tergabung dalam Forum Pimpinand Daerah (Forpimda), mengenakan pakaian adat keraton. Bunyi gamelan khas Madura mengalun indah, dan dua pengawal berdiri tegak menyambut para undangan didepan ruangan sidang paripurna. Kekentalan suasana hari jadi semakin terasa saat Ketua DPRD Sumenep, KH. Imam Hasyim, SH, MH menggunakan bahasa Madura untuk membuka Sidang Paripurna, termasuk sambutannya yang memang dikemas dengan menggunakan Bahasa Madura. “Badhan kaula sareng panjennengan sadhaja pantes manjjatagi puji Sokkor da’ ka ajunan Allah, Amarga omor Kadipaten Soengennep ampon depa’ dhe’ 744 taon,”ucap Ketua DPRD Sumenep dalam Bahasa Madura, yang artinya “Kita semua seharusnya bersyukur, karena hari ini usia Kabupaten Sumenep sudah mencapai 744 tahun”. Bupati Sumenep, KH. A. Busyro Karim, M.Si juga memberikan sambutan dengan menggunakan Bahasa Madura. Menurutnya, meskipun saat ini kemajuan dan perkembangan teknologi sudah canggih, namun kearifan budaya lokal Sumenep masih harus tetap dipertahankan, diantaranya budaya kerja keras, pantang menyerah, jujur, dan bertanggung jawab. “Abhantal angin, asapo’ ombak, aloko bajheng tor tanggung jawab,”pesannya menggunakan Bahasa Madura. Bupati juga berharap agar seluruh lapisan masarakat bisa bergotong royong untuk ikut memajukan Kabupaten Sumenep dengan saling mendukung demi kemajuan pembangunan kedepan, sebab kemajuan Sumenep tidak bisa hanya dipasrahkan pada pemerintah, tapi juga perlu dukungan masyarakat. “Ngereng song osong lombung, kaangguy kamajuan Kabupaten Sumenep,”imbuhnya masih dengan bahasa Madura, yang artinya “Mari kita bersama-sama membangun untuk kemajuan Kabupaten Sumenep,”. Bupati menjelaskan, pada Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke 744 ini ingin menampilkan ciri khas Kabupaten setempat, mulai dari pakaian hingga bahasa yang dipakai. Bahkan, sidang paripurna istimewas ini menjadi benar-benar istimewa, selain berbahasa Madura juga menggunakan pakaian adat Keraton Sumenep. “Kami ingin melestarikan kembali kekayaan Madura yang mulai luntur. Kita ingin mengingat bahasa ibu pertiwi terdahulu, semoga bukan cuma acara seremonial, tapi kedepan juga perlu diaplikasikan semua pesan para raja-raja Sumenep,”ungkapnya. Bupati menambahkan, aturan pemakaian baju adat Keraton Sumenep ini berlaku selama 2 hari, sejak Rabu (30/10) kemarin, dan Kamis (31/10),”pungkasnya. ( Nita, Esha )