Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 24-01-2016
  • 430 Kali

Simpatisan Korban Penganiayaan Datangi Polres Sumenep

News Room, Senin ( 25/01 ) Tak kunjung adanya penetapan tersangka atas kasus penganiayaan yang menimpa seorang siswa SMA di Sumenep, yakni Ahmad Fahrul Futoni atau Toni, warga Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, yang diduga dipaksa mencelupkan tangannya ke minyak goreng, memancing amarah sejumlah elemen masyarakat.

Belasan simpatisan korban itu, Senin (25/01) pagi, mendatangi Polres Sumenep. Mereka mempertanyakan sejauh mana proses hukum yang dilakukan oleh Polres. Sebab, sejak dilaporkannya kasus tersebut, pada tanggal 11 Januari 2016 hingga sekarang, pelakunya tidak ditangkap, padahal identitas pelaku sudah ditunjukkan oleh keluarga korban saat melaporkan.

Selain berorasi secara bergantian, mereka membawa spanduk bertuliskan “Polres Sumenep harus segera tangkap dalang dan pelaku serta yang terlibat penganiayaan “Toni” anak di bawah umur”.

“Kami kesini (Polres Sumenep,Red) hanya untuk mempertanyakan kepada penyidik, kasus yang menimpa "Toni" sudah masuk tahap apa?. Kok pelakunya masih belum ditangkap,”tegas Affandi, salah satu orator aksi.

Ia menilai, kinerja penyidik Polres Sumenep sangat lamban dalam menangani kasus anak dibawah umur ini. “Mestinya tersangka sudah ditetapkan dan ditangkap. Tolong tunjukkan kerja nyata anggota Polres yang katanya sebagai pengayom masyarakat. Apa harus menunggu jatuhnya korban lagi,”terangnya.

Sementara itu, Kasubbag Humas Polres Sumenep, AKP Hasanudin mengungkapkan, pihaknya terus menindak lanjuti kasus dugaan penganiayaan tersebut. “Kami terus melakukan penyelidikan. Meski tidak ada demo, kami pasti tindak lanjuti,”ujar Hasanudin.

Sebelumnya, Ahmad Fahrul Futoni yang akrab disapa Toni diduga menjadi korban penganiayaan warga Pandian, Sumenep pada tanggal 10 Januari 2016. Tangan kanan korban melepuh setelah dicelupkan ke minyak goreng dalam kondisi mendidih.

Dugaan penganiayaan tersebut berawal saat korban dituduh mengambil telepon genggam atau handphone milik temannya yang dititipkan sepulang dari silaturrahmi ke rumah teman lainnya di Kecamatan Lenteng.

Korban tetap tidak mengaku karena memang tidak mengambil, melainkan hilang saat terjadi kecelakaan di wilayah Batuan, Sumenep. Pihak keluarga pemilik HP terus memaksa, agar korban mengakuinya atas dasar petunjuk dari orang pintar (peramal) jika korban diyakini mengambil HP. Korban pun akhirnya diintrogasi hingga terjadi penganiayaan yang diduga dilakukan oleh 2 orang yang mengaku keluarga pemilik HP yang telah mempersiapkan minyak goreng dalam kondisi mendidih. ( Nita, Esha )