News Room, Rabu ( 28/11 ) Satuan Kerja Sementara Pelaksana Migas (pengganti BP Migas), menilai kondisi di 3 pengeboran migas di Sumenep, yakni PT. Energi Mineral Langgeng (EML) di Kecamatan Saronggi, PT. SPE Petrolium Ltd di Kecamatan Guluk-guluk, Bluto, Lenteng dan Pragaan, dan PT. Husky Oil di Kecamatan/Pulau Raas, sudah kondusif. Kepala Kantor Perwakilan Satuan Kerja Sementara Pelaksana (SKSP) Migas, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Agus Kurnia menjelaskan, secara kelembagaan, pihaknya belum mendapat informasi mengenai kasus yang terjadi pada 3 titik pengeboran sumur Migas di Sumenep. Apalagi menyangkut di daerah Tanjung, Kecamatan Saronggi, yang dikelola PT. EML. "Sebelum melakukan pengeboran, kami selalu mendahului dengan sosialisasi pada masyarakat sekitar, untuk melihat apakah ada resistensi atau tidak. Sampai sekarang, kami belum menerima laporan dari warga terkait aktivitas PT. EML,"katanya. Menurut Agus, pihaknya selalu merespon reaksi warga sekitar, jika terjadi penolakan, seperti aksi warga beberapa bulan yang lalu "Dalam aksi tersebut, "Camp" kami sempat diduduki masyarakat, dan beberapa fasilitas dirusak. Kami akhirnya memilih menghentikan aktifitas pengeboran, menunggu situasi kondusif. Disamping itu, sosialisasi terus berjalan,"terangnya. Agus mengungkapkan, pengeboran PT. EML saat ini dihentikan sejenak, karena tengah masa evaluasi untuk kandungan migas di sumur-sumur ENC. "Tapi kalau sumur yang pertama kan pengeborannya sudah selesai. Situasi sudah kondusif kok,"ujarnya. Sedangkan terkait laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum TNI di lokasi pengeboran PT. EML di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Agus mengaku juga sudah mendengar laporan tersebut. Karena itu, pihaknya memastikan akan bertemu Komnas HAM pada Rabu sore ini. "Komnas HAM katanya kan sudah turun ke lokasi. Nanti sore akan berkoordinasi dengan kami, terkait terjadinya dugaan pemukulan masyarakat oleh oknum TNI. Kalau dari kami, tidak ada data terjadi pemukulan tersebut,"ungkapnya. Agus yakin kondisi pengeboran migas lain di Sumenep seperti PT. SPE Petrolium Ltd di Kecamatan Guluk-guluk, Bluto, Lenteng dan Pragaan, serta PT. Husky Oil di Kecamatan/Pulau Raas, juga sudah kondusif. "Kalau ada protes-protes kecil, ya biasa sajalah. Itu warja-wajar saja,"pungkasnya. Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), Selasa (27/11) turun langsung ke Sumenep, melakukan penyelidikan berdasarkan laporan masyarakat, terkait konflik di tiga pengeboran migas, yakni PT. Energi Mineral Langgeng (EML), SPE Petrolium, dan PT. Husky Oil. Untuk PT EML, masyarakat melaporkan dugaan pemukulan oleh oknum TNI. Sedangkan untuk SPE Petrolium, masyarakat melaporkan kekhawatiran dengan masih banyaknya dinamit yang belum diledakkan di lokasi seismik. Dan PT. Husky Oil di Raas, sempat mendapat protes keras dari mahasiswa dan masyarakat sekitar, karena dianggap tidak memperhatikan kepentingan warga sekitar pengeboran. ( Nita, Esha )