News Room, Rabu (23/02) Letak geografis Kabupaten Sumenep, yang memiliki 126 pulau dengan rincian 48 pulau berpenghuni dan 78 tidak berpenghuni, berpotensi dijadikan sebagai transit imigran gelap. Terbukti, selam tiga bulan lebih, polisi berhasil mengamankan dua rombongan imigran gelap yang akan mencari suaka ke Australia, di wilayah Sumenep, di lokasi berbeda. Kapolres Sumenep, AKBP Susanto menjelaskan, meski sudah dua kali berhasil mengungkap kasus imigran gelap, namun untuk sementara sesuai hasil koordinasi dengan tim dari Polda Jawa Timur, belum ada warga Sumenep yang terlibat dalam kasus imigran gelap tersebut. “Dua kasus imigran gelap yang berhasil diamankan, dilakukan oleh sindikat tertentu. Kasus pertama terjadi pada tanggal 7 Desember 2010 di Perairan Daandung, Kecamatan Kangayan (Pulau Kangean) dan kedua di Pantai Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan pada Kamis (17/2) malam,” katanya. Kasus pertama terungkap, ketika kapal yang mengangkut 92 imigran gelap itu mengalami kerusakan mesin dan kebocoran di Perairan Daandung. “Untuk kasus kedua, sebanyak 46 imigran gelap diamankankan ketika menunggu kapal yang akan membawa mereka ke Australia, di Pantai Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan,” terangnya. Pengungkapan kasus kedua ini, kata Kapolres, memang dilakukan oleh gabungan tim dari Mabes Polri dan Polda Jawa Timur, yang sudah dibuntuti sejak di Bogor, Jawa Barat. “Hasil koordinasi kami dengan personel tim, dari Bogor para imigran gelap itu naik mobil dan di Gresik, Jawa Timur, berganti mobil. Semula, rombongan imigran gelap tersebut disangka akan ke wilayah Pamekasan, tapi setelah diikuti, ternyata menuju Pantai Pasongsongan, Sumenep, yang selanjutnya mau naik kapal yang sudah menunggu di tengah laut menuju Australis,” ujarnya. Kapolres mengungkapkan, ada dugaan para imigran gelap itu akan diseberangkan ke Australia oleh sindikat penyelundupan manusia internasional. “Dengan adanya dua kasus ini, kami minta pimpinan polsek di 27 kecamatan termasuk anggota, baik di daratan maupun di kepulauan, untuk meningkatkan kewaspadaan. Sumenep yang memiliki banyak pulau dan wilayah perairannya lebih luas dibanding daratannya, memang berpotensi menjadi lokasi transit para imigran gelap. Komunikasi dengan tokoh masyarakat penting dilakukan,” ungkapnya. Bahkan, Peran serta warga setempat, merupakan hal penting dalam mendeteksi keberadaan warga asing di wilayah tertentu. “Kami berharap dukungan dari warga untuk menginformasikan atau melaporkan kepada jajaran kami, jika mengetahui ada warga asing yang berada diwilayahnya,” pungkanya penuh harap. (Nita,y02k)