News Room, Selasa ( 03/02 ) Pada bulan Januari 2015, Kabupaten Sumenep mengalami deflasi sebesar 0,27 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 116,98.
Sementara Jawa Timur terjadi inflasi sebesar 0,20 persen dengan IHK sebesar 118,31. Sedangkan tingkat nasional juga mengalami deflasi sebesar 0,24 persen dengan IHK sebesar 118,71.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Suparno, menjelaskan, deflasi di bulan Januari juga pernah terjadi pada tahun 2009 sebesar 0,15 persen, jadi terjadi 7 tahun lalu.
Untuk tahun ini, deflasi tersebut terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok pengeluaran, yakni kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,06 persen, kelompok transportasi dan jasa keuangan sebesar 3,21 persen.
“Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah bensin, cabai merah, cabai rawit, udang basah, cumi-cumi, apel, cakalang/sisik, tongkol/ambu-ambu, bayam, tengiri dan tarif trevel,”kata Suparno, Selasa (03/02).
Menurut Suparno, kelompok pengeluaran lainnya mengalami kenaikan harga yang ditunjukkan oleh perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,52 persen, kelompok sandang sebesar 1,24 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,08 persen. Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau relatif stabil.
Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah daging sapi, telur ayam ras, beras, bawang daun, emas perhiasan, sepeda motor, daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, wortel, dan bawang merah.
“Sementara, tingkat inflasi tahun kalender Sumenep bulan Januari 2015 sebesar -0,27 persen, Jawa Timur sebesar 0,20 persen dan Nasional sebesar -0,24 persen,”terangnya.
Ia menegaskan, tingkat inflasi tahun ke tahun (Januari 2015 terhadap Januari 2014) Sumenep sebesar 6,91 persen, Jawa Timur sebesar 6,86 persen, dan Nasional sebesar 6,96 persen. ( Nita, Esha )