Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 05-04-2008
  • 602 Kali

Tanaman Alternatif, Tekan Over Produksi Tembakau

News Room, Sabtu ( 05/04 ) Setelah dalam beberapa kali musim tanam tembakau, para petani menuai kerugian yang sangat besar, barangkali untuk jatuh kedalam jurang yang sama harus berpikir seribu kali. Pasalnya selain cuaca yang kurang menentu, yang paling ironis justru penjualan hasil tanam tembakau bahkan tidak cukup untuk mengembalikan modalnya saja, apalagi jika dihitung dengan upah kerja dan sebagainya. Masihkah petani akan terus menggantungkan nasibnya pada pucuk-pucuk daun yang sering disebut daun emas itu. Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumenep, Ir. Bambang Heryanto, mengingatkan agar para petani menghadapi musim kemarau yang biasanya juga merupakan musim tanam tembakau, hendaknya mempertimbangkan keinginannya untuk tanam tembakau, utamanya pada lahan-lahan yang kurang cocok untuk tanam tembakau, misalnya di lahan sawah dan lahan-lahan yang selama ini kurang baik ditanami tembakau. Menurutnya disamping faktor cuaca yang kadang kurang baik sehingga menyebabkan kwalitas dan harga yang turun, over produksi yang sering terjadi setiap tahunnya juga harus menjadi pertimbangan. Dijelaskan Bambang jika target pengambilan dari dua Gudang besar di Sumenep di tahun 2008 ini hanya sekitar 4.677 ton. Sedangkan melihat prediksi tanam tahun sebelumnya di Sumenep sekitar 11.750 hektar namun realisasi bisa mencapai 19.412,64 hektar dengan estinasi cuaca jelek bisa menghasilkan 460 Kg/hektar yakni 8.929,81 ton. Sehingga over produksi mencapai 4 ribu ton lebih. Sementara harga tertinggi kwalitas G+ =Rp. 28 ribu/Kg, Go= Rp. 26 Ribu/Kg dan G-= Rp. 24 ribu/Kg. Dan kwalitas O4= 22 Ribu/Kg, O4o= Rp. 20 ribu/Kg, O4-=Rp. 18 ribu/Kg serta kwalitas O3- hanya Rp. 16 ribu/Kg. Sementara salah seorang aktivis LSM di Sumenep, Ach.Zaini berharap Dishutbun Sumenep gencar melakukan sosialisasi ke para petani untuk mengurangi tanam tembakau yang dalam beberapa tahun terakhir para petani banyak yang menjerit. Meski delematisnya ketika terkesan dilarang dan kemudian hasilnya nanti ternyata petani untung besar maka Dinas Instansi terkait yang disalahkan. Karena itu Zaini berharap disamping sosialisasi penekanan tanam tembakau perlu ada tanaman alternatif untuk menekan ketergantungan petani tembakau yang memiliki prospek cerah dan lebih bagus. “Sebenarnya banyak tanaman alternatif seperti jarak pagar, kedelai, wijan dan sebagainya yang kedepan berprospek bagus, bahkan bisa menjadi komoditi eksport,”ujar Zaini. Karena itu menurutnya Dishutbun perlu mencoba pilot project terhadap beberapa tanaman alternatif dan setelah dalam perkembangannya bagus dapat ditingkatkan. Sehingga dengan sendirinya petani akan beralih pada tanaman yang bernilai bagus itu. ( Ren, Esha )