Media Center, Kamis ( 01/03 ) Budaya Tanda' merupakan salah satu sisa budaya Madura yang hingga kini tetap bernafas. Di perkotaan, seni ini tergolong langka. Meski secara historis, seni ini lahir di pusat peradaban kota Sumenep. Bahkan, ia lahir di dalam lingkup tembok keraton.
Namun, kini mencari pertunjukan
Tanda' di kawasan kota ibarat mencari selembar jerami dalam tumpukan
jarum. Seni ini banyak dipentaskan di daerah pedesaan, atau
pinggiran, kalau tak mau menyebut pedalaman. Umumnya, seni ini hadir
dalam setiap perayaan perkawinan.
"Bahkan di Talango, perayaan
perkawinan tanpa Tanda' dianggap seperti musibah kematian,"kata Rani,
mahasiswa asal Sumenep yang mengangkat tema Tanda' dalam tugas akhirnya.
Menurut Edhi Setiawan, budayawan Madura, Tanda' memang salah satu
budaya kebanggaan masyarakat Sumenep. Bisa dilihat saat laki-laki yang
naik panggung, menari dengan para Tanda', mendapat dukungan dari
pasangannya. "Isterinya malah memberi modal uang pada suaminya sebagai sawer pada Tanda'," kata Edhi.
Tanda' memang sebutan pada penyanyi dan penari dalam seni musik
tradisional Tayub. Tanda' ini memang berjenis kelamin perempuan. Di masa
lalu, seni budaya ini hanya dimiliki oleh keluarga keraton. Karena
peralatan musiknya, seperti gamelan dan lain sebagainya itu hanya
dimiliki keraton. Rakyat biasa tidak mampu menjangkaunya kala itu.
Sebenarnya Tanda' berasal dari budaya Jawa. Dulu para personel Tanda'
bahkan diberi gelar kebangsawanan. "Tapi yang diberi gelar hanya di
Jawa. Bahkan di sana juga diwisuda. Hingga kini itu tetap,"ungkap Edhi.
Di era awal kelahirannya hingga runtuhnya keratonisasi, Tanda' tetap
merupakan seni terhormat. Perempuan Tanda' juga menjaga gerak tariannya
dari segala hal yang berbau erotis atau membangkitkan birahi penonton
yang rata-rata laki-laki.
"Istilah sawer itu juga tak ada. Bahkan setelah Tanda' keluar dari keraton, seni ini dibayar oleh penanggap atau pemilik acara. Bukan menyelipkan uang pada penari Tanda' hingga ke balik kutang," kata Budayawan Senior Madura, almarhum RP. A. Sukur Nataasmoro, di waktu hidupnya.
Kenapa Tanda' malah bergeser dari
posisinya yang dulu terhormat dan sakral? Menurut Edhi, karena
sudah menjadi budaya rakyat, sehingga banyak unsur asing yang bebas
mempengaruhi. Unsur-unsur sejarah Tanda' malah sudah tidak lagi
diketahui. "Di satu sisi memang bagusnya budaya ini masih hidup meski sudah tidak asli," katanya.
Edhi bahkan mengatakan bahwa istilah Tanda' kadang diplesetkan, setanna
bada e ada' (setannya ada di depan; red). Tak
hanya Edhi, menurut Rani, Tanda' juga dikenal dengan pertunjukan 3C. "Cium, Ciu, Colek. Memang harus ada nantinya yang bisa mengembalikan seni
ini ke habitat aslinya," katanya. ( M. Farhan, Esha )