News Room, Senin ( 25/08 ) Para pelaku seni karawitan yang ada di Desa Tanahmera Kecamatan Saronggi, saat ini panen tanggapan. Termasuk pula para sinden, yang biasanya pada bulan Agustus, September, dan Oktober selalu ramai. Dan hampir tiap hari para pesinden dan kerawitan tidak pernah nganggur. â€ÂRata-rata kerawitan dan sinden yang ada disini tidak pernah sepi manggung. Malah sering dalam setiap harinya tidak pernah kosong selama tiga bulan tersebut,â€Âujar Suroso, Kepala Desa Tanahmera ini. Bisa dibilang pelaku seni budaya tradisional yang mayoritas di Desa Tanahmera ini justru dinominasi perempuan lagi ramai-ramainya job. Suroso mengaku bangga dengan potensi seni karawitan, termasuk juga sindennya yang cukup banyak di Desanya. Dan itu menurut Suroso, sudah dianggap peluang kerja yang cukup memberikan penghasilan yang lumayan besar. Bayangkan, jika setiap kali ada tanggapan keluar daerah maupun di daerahnya sendiri, para pelaku seni ini juga mendapatkan upah yang tidak sedikit. Berkisar antara Rp. 50.000,00 hingga Rp. 200.000,00 setiap kali manggung. Namun tahun ini, karena bulan September kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadhan, dimungkinkan sebulan ini tidak ada job. Namun usai lebaran nanti, dipastikan job-job mereka akan kembali ramai. Diakui Suroso, yang paling dari kebiasaan mereka berkarawitan, malah kemudian ada yang terjun sebagai sinden. Meski awalnya, sepertinya untuk menjadi seorang sinden merupakan pekerjaan yang tabu, namun pelan tapi pasti ada sekitar 10 sinden lebih di Desanya. Bahkan para sinden ini tidak hanya didominasi para perempuan dewasa dan ibu rumah tangga, tetapi banyak remaja puteri yang menjadikan profesi sinden sebagai kebanggaanya. Karena disamping sejak kecil sudah mengalir darah seni orang tuanya, penghasilannyapun tidak kalah dengan penyanyi panggung. â€ÂBayangkan untuk sekali manggung seorang sinden bisa meraup minimal Rp.500.000,00 hingga Rp. 2 juta. Itupun diluar hasil saweran yang kadang berlipat-lipat dari tarip kontrak dari pemilik gawe,â€Âujarnya. Suroso berharap, seni budaya karawitan yang dimiliki Desanya itu dapat dilirik pemerintah untuk dijadikan promosi salah satu kekayaan wisata budaya Sumenep. Salah seorang sinden, Susmiyati mengaku hampir tiap hari manggung, bahkan terkadang sehari bisa dua kali, siang dan malamnyapun harus tampil. Sebab, kalau menolak khawatir penawar jasanya tersinggung. Karena itu Susmiyati, tetap harus tampil pria demi pencinta sinden. Dan tentu harus menjaga kondisi dengan minum jamu tradisional. Ibu 2 anak ini menceritakan pertama kali manggung sekitar 3 tahun lalu, karena kebetulan sinden yang ditunggu-tunggu terlambat, sehingga secara spontan dirinya menggantikan sinden aslinya. Rasa minder ada, tapi sebenarnya waktu itu dia mengaku sudah sering nembang (ngijung) ketika itu masih main di kerawitannya. â€ÂAkhirnya, karena keseringan ganti gitu, ya nyemplung juga. Ternyata enak juga, tentunya karena sawerannya juga banyak,†tuturnya. ( Ren, Esha )