News Room, Rabu ( 26/08 ) Masjid Jamik Batuampar merupakan salah satu masjid kuna di Sumenep, khususnya di area bagian barat Kabupaten ini. Masjid ini dibangun oleh Kiyai Abdullah bin Abdul Qidam, salah satu ulama besar di masanya. Kiyai Abdullah ini adalah ayah dari Bindara Saut, Raja Sumenep yang bergelar Tumenggung Tirtonegoro. Dan tidak disangka, masjid ini bahkan bisa dikata masjid tertua di Sumenep.
"Masjid ini dibangun tahun 1002 Hijriah atau 1583 Masehi," kata RB. Muhammad Ishaq, salah satu keturunan Kiyai Abdullah dari jalur Bindara Saut, di Desa Batuampar, Kecamatan Guluk-guluk.
Angka ini didasarkan pria yang akrab dipanggil Gus Ishaq ini pada manuskrip kuna yang saat ini tersimpan di rumahnya. Dan jika ini benar, maka masjid Jamik Batuampar tentu masih lebih dulu ada dibanding Masegit Laju atau masjid lama yang dibangun Pangeran Anggadipa, Bupati Sumenep asli Jepara, pada tahun 1370 tahun Jawa atau sekitar tahun 1639 Masehi.
Hingga saat ini, masjid Jamik Batuampar ini masih original, khususnya di bangunan utama. Memang ada sedikit tambahan, tapi hal itu tidak merubah bagian aslinya. "Memang sempat direnovasi, kemarin dapat bantuan dari Depag (sekarang Kemenag). Namun tidak merubah bagian dalam yang merupakan bangunan original," kata putra R. A. Bahauddin Tirtokusumo ini.
Masjid Batuampar ini juga banyak menyimpan cerita yang melegenda. Karena masjid ini letaknya berkumpul dengan makam pendirinya, Kiyai Abdullah. Ada yang mengatakan bahwa masjid ini dibangun dengan karomah Kiyai Abdullah saat pindah dari Pamekasan ke Batuampar, maupun cerita-cerita lain yang tentu tidak bisa dinalar oleh akal.
"Bahkan ada yang bilang jika masjid maddeg (berdiri) dengan sendirinya tanpa melalui proses pembuatan manusia," kata R. Abubakar, salah satu tokoh Batuampar yang juga keturunan Kiyai Abdullah.
Namun lepas dari itu yang pasti masjid ini juga pernah menjadi pusat jujukan ilmu. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak ulama-ulama besar Madura, bahkan ke daerah tapal kuda adalah keturunan Kiyai Abdullah. ( Farhan, Fer )