Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 27-10-2015
  • 1339 Kali

Tokoh : Potret Nusantara Ada Di Kabupaten Sumenep

News Room, Rabu ( 28/10 ) Tujuh ratus empat puluh enam tahun sejak Banyak Wide atau Aria Wiraraja dinohkenkan (baca: dijauhkan) ke ujung timur pulau Madura, Sejarah Sumenep dimulai. Tepatnya di putaran kalender ke 31 bulan Oktober 1269 Masehi silam. 

Meski menurut sebuah prasasti bertahunkan 1255 M yang bernama Mula Malurung, pernah disebutkan tentang adanya pusat pemerintahan atau kerajaan di Madura. Namun sayang, lempengan VII A dan B 12 raib, sehingga nama penguasa Madura dalam prasasti tersebut tak pernah diketahui lagi. Akibatnya, tak ada sumber lain yang bisa dijadikan rujukan untuk memperoleh info Sumenep pra-Wiraraja. 

Drs. K. R. Ismail Wongsoleksono, salah satu tokoh masyarakat di Sumenep mengatakan, bahwa potret Nusantara berada di Sumenep. Betapa tidak, bertolak dari Sumenep, Majapahit (baca: Nusantara) lahir. Tak hanya itu, Sumenep juga kaya dengan SDM dan SDA. Ditambah dengan gugusan pulau dengan berbagai karakteristik jiwa penghuninya yang kompleks. 

“Bisa dikatakan sebagai miniatur nusantara,”tutur putra almarhum KR Wongsoleksono, salah satu ulama kharismatik Sumenep sekaligus tokoh yang ikut membesarkan NU Sumenep. Ketika ditanya tentang “rupa” dari “potret” itu, mantan guru PAI di SDN Pangarangan VII Sumenep ini mengatakan bahwa tak cukup satu sudut pandang untuk bisa merefleksikannya. 

“Tergantung dari jenis kacamatanya. Artinya, ketika kita melihat dari kacamata agama, jelas khairul kurun sudah lewat. Namun, bukan berarti kita harus membiarkan diri kita diseret arus jaman, sehingga kita perlu mengkombinasikan dengan kacamata lain. 

Di bidang pembangunan dan teknologi, serta pendidikan, kita lihat banyak kemajuan pesat. Kita juga sudah bisa bersaing bahkan hingga tingkat internasional,”tambahnya. Namun, menurut beliau kemajuan iptek dan pembangunan itu harus selaras dengan akhlaq yang senantiasa terus terpelihara. 

“Tanpa itu semua niscaya yang diperoleh tak akan barokah. Ilmu misalnya, jangan lupa adab pada guru. Karena guru itu merupakan sanad. Sanad itu merupakan warisan agama yang sangat tak ternilai. Tanpa sanad maka ilmu dari sejak masa Rasulullah SAW tidak akan pernah sampai pada kita,”tegasnya. 

Sementara Ahmad Roziqi, 23 tahun, karyawan administrasi di pengisian Elpiji Pertamina Sumenep mengatakan, bahwa meski semakin tua, Sumenep tidak kolot. Kebebasan berekspresi di Sumenep menurutnya patut diacungi jempol. Dinamika demokratisasi berjalan dengan baik. 

“Ini suatu kemajuan. Menunjukkan bahwa Sumenep dinamis. Tidak stagnan, dan menerima dengan lapang terhadap perubahan dan perbedaan,”tambahnya.

Kemajuan di bidang pembangunan di Sumenep menjadi salah satu indikator berkembangnya perekonomian warganya. “Hampir setiap jengkal lahan kosong sudah terisi dengan perumahan warga,”kata Roziqi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa taraf ekonomi warga sudah lebih baik dibanding sebelumnya, sehingga menurut Roziqi hampir bagi seluruh masyarakat Sumenep sudah tak ada lagi sebutan barang mewah, hal itu disebabkan daya beli mereka sudah lebih baik. 

“Kalau dulu kan disebut mewah karena ada ketimpangan, ada yang punya ini itu tapi banyak yang tak punya. Tapi sekarang kan tidak. Ya Alhamdulillah, semoga Sumenep bisa terus berbenah dan lebih baik lagi,”tutur putra ketiga dari empat bersaudara ini. 

Apa yang dikatakan Roziqi ini ternyata diamini oleh Dafifah, 19 tahun, siswi kelas XII SMA Negeri Ambunten. Menurut Devi (panggilan akrabnya), sarana dan prasarana yang dimiliki siswa-siswi jaman sekarang sudah sangat lengkap. 

“Kalau sekadar hape dan komputer jinjing, hampir dipastikan semua siswa sudah tak alergi lagi. Bahkan bisa dikata rata-rata saat ini siswa sudah tak ada yang pakai sepeda pancal, rata-rata sudah naik motor,”ujarnya. 

Sebagai penunjang, bagi Devi hal itu positif. Namun menurutnya tetap harus diwaspadai dampak negatifnya. Apa saja ? “Ya banyak. Fasilitas itu kadang disalah gunakan.

Sepeda motor kadang dibuat gaya-gayaan, malah yang buruk jika dibuat kebut-kebutan. Begitu juga hape dan laptop. Jadi kita tetap tidak memungkiri efek negatif dari semua kemudahan dan kelengkapan itu,”tuturnya. Namun lepas dari itu semua, bagi Devi kondisi saat ini jelas merupakan kemajuan bagi Sumenep. 

“Kalau saya sangat cinta pada Sumenep. Sumenep bikin betah. Sumenep sudah maju, jadi kita harus bangga jadi anak Sumenep,”katanya mantap. 

Sementara Zahratul Laila, 39 tahun, pengusaha butik “Laila” di Jalan Mutiara 120 Bangselok mengatakan, di usia Sumenep yang sudah lebih tujuh abad ini hendaknya tetap memelihara akar budaya leluhur. “Jangan sampai identitas Sumenep itu luntur karena usia yang semakin sepuh,”kata putri wartawan senior Sumenep almarhum R. Abdul Djamal ini. 

Menurut Iing (panggilan karibnya) harus diakui bahwa berkembangnya pembangunan dan ekonomi jelas berpengaruh pada kearifan lokal. 

“Masalahnya yang dikhawatirkan dari perkembangan dan kemajuan itu, berjalan lurus dengan perubahan gaya hidup. Nah, ini perlu kita cermati bersama,”tambahnya. ( Farhan, Esha )