News Room, Jumat ( 20/05 ) Tak hanya laku shadaqah, bersih-bersih rumah dan tempat ibadah, beberapa tradisi lainnya menyambut Ramadlan di Sumenep begitu kompleks. Seperti misalnya juga tradisi nyekar di Kamis sore atau Jumat pagi ke empat di bulan Sya ban ini. Atau istilah Maduranya, Jumaat di-budi. Tak hanya nyekar, tak jarang ditemui peziarah yang memperbaiki, atau memperbagus, bahkan memugar kijing makam leluhur atau sanak saudaranya.
Tradisi lain ialah menambah frekuensi ibadah sunnah. Seperti berdzikir, mengaji Al-Quran, atau puasa sunnah. Khusus puasa sunnah, umumnya juga waktu jelang Ramadlan dimanfaatkan bagi umat yang memiliki hutang puasa di tahun sebelumnya. Disamping itu juga ada kebiasan warga yang berakar pada tradisi kuna yang kini sudah mulai luntur.
Padahal sedikitnya ada 2 tradisi rutin yang dulu bahkan biasa dijalankan berbagai tingkat masyarakat, mulai kelas bawah hingga kalangan bangsawan, priyayi, dan para ulama di Sumenep. Seperti candok dan pijat.
"Istilah candok atau acandok bagi sebagian warga Sumenep memang kurang begitu populer. Bahkan bagi generasi kini istilah ini tergolong asing. Candok atau bekam merupakan salah satu tradisi menjelang Ramadlan yang sudah hampir terlupakan,"kata Deny Fahrurrazi, salah satu pemerhati budaya di Sumenep pada Media Center.
Padahal, candok atau bekam pernah dilakukan Rasulullah SAW dan para shahabat Beliau SAW. Bekam yang bahasa arabnya hijamah, dari asal kata al-hajmu yang maknanya al-mash, yaitu menyedot.
Salah satu terminologi fiqh memaknai bekam sebagai upaya menyedot darah kotor dalam tubuh manusia dengan menggunakan alat bekam yang khusus, tanpa melalui pembedahan. “Di era kuna, candok merupakan kebiasaan para pembesar keraton, bahkan juga raja,”tambah Deny.
Tujuannya jelas, seperti tujuan bekam pada umumnya, yaitu untuk mengeluarkan darah kotor, sehingga bisa lebih menyehatkan tubuh.
Meski anjuran bekam itu setiap bulan, namun yang marak, dahulu bekam menjadi kebiasan banyak kalangan kala jelang masuknya bulan yang memiliki lailatul qadar ini.
Vitalitas tubuh memang menjadi salah satu syarat utama, agar bisa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadlan, sehingga tak jarang ditemui orang yang terpaksa membatalkan puasanya karena alasan sakit atau kurang fit.
Oleh karenanya, sebagian besar umat Islam di Sumenep, membiasakan dirinya berpijat atau aorok untuk melancarkan peredaran darah, maupun melemaskan otot atau urat yang kaku.
“Ya, memang ada juga yang menyepelekan pijat ini. Padahal setahu saya, sejak dulu biasa dijalani orang-orang kala mau masuk bulan puasa,”kata Buk Emmat, warga Desa Tambak Agung Ares, Kecamatan Ambunten.
Menurut nenek berusia hampir 70 tahun yang mengontrak sebuah rumah di sebuah gang sempit di pojok Kota Sumenep ini, kebiasaan pijat banyak membantu vitalitas tubuh, sehingga efeknya, tubuh bisa lebih segar dan lebih rileks saat berpuasa.
“Manfaatnya tidak sedikit. Itulah mengapa hal ini biasa di kalangan orang-orang kuna, terutama kalangan priyayi,”tutup perempuan 4 anak yang berprofesi sebagai tukang pijat ini. ( Farhan, Esha )