Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 24-01-2011
  • 533 Kali

Tukang Mesin Pompa, Bekerja Turun Naik Sumur

News Room, Senin ( 24/01 ) Tak pernah terbersit dibenak Mujianto (45), warga Desa Kalianget Timur Kecamatan Kalianget untuk menjalani pekerjaan sebagai tukang memperbaiki mesin air. Awalnya, hanya menolong tetangga dekatnya ketika mesin pompa airnya mengalami kemacetan dan kerusakan. Karena sering berhasil memperbaiki mesin secara otodidak, lama-lama tetangga dekat hingga jauh, seringkali menggunakan jasanya tidak hanya sekedar memperbaiki mesin pompa, namun seringkali harus turun naik sumur ketika harus menghidupkan mesin pompa. Padahal resikonya besar, hanya dengan pengaman tali sumur yang dililitkan di pangkal pahanya, Mujianto turun naik dari sumur satu ke sumur yang lain. Ketika harus mengambil mesin pompa yang ditempatkan dibawah. Sebab, rata-rata sumur di Kalianget kedalamannya sekitar 50 meter lebih. “Mesin pompa disini memang seringkali rusak, utamanya pada saat musim kemarau, karena seringnya air kering sedangkan mesin pompanya tetap hidup,”ujar Mujianto ketika ditemui disela-sela memperbaiki pompa air dirumah warga setempat tadi pagi. Karena alasan itulah, kemudian bapak 4 anak ini merasa itulah pekerjaan yang memang harus ditekuni, setelah sebelumnya memang bekerja serabutan untuk menyambung hidupnya bersama istri dan anak-anaknya. Meski kadang upah yang diterima tidak sepadan dengan jerih payah dan resiko kerjanya, namun Mujianto mengaku lebih puas dan merasa pekerjaannya selalu dibutuhkan orang. “Bisa dikatakan bekerja sambil menolong orang. Kalau dengan harta saya tidak bisa memberi, mungkin dengan jasa ini saya bisa bekerja sekaligus membantu orang lain,”ujarnya. Apalagi, tegas pria berkumis ini, air merupakan penghidupan bagi manusia, sehingga ketika tidak ada air untuk mandi apalagi minum, manusia akan kelimpungan mencari kesana-kemari. “Syukurlah, untuk sekedar makan dan biaya anak-anak sekolah kadang cukup kadang tertunda. Sebab, saya tidak pernah mematok harga jasa saya, seikhlasnya saja yang penting air mengalir saya dibayar,”ujarnya pasrah. Sementara menurut salah seorang pelanggannya, Abd. Salam, mengaku salut dengan keuletan dan keberanian Mujianto dalam menjalani pekerjaannya. Selain memerlukan otak dan keahlian memperbaiki dia juga berani mempertaruhkan jiwanya ketika harus masuk ke dalam sumur yang rata-rata dalam sekali. “Saya rasakan seharusnya bayaran untuk jasa itu mahal, namun dia tidak pernah minta untuk jasa turun naik sumur, tapi hanya untuk perbaikan mesin pompanya itupun seikhlasnya,”terangnya. Saya berharap ada perhatian dari pihak pemerintah maupun dari dermawan yang bisa memberikan modal maupun bentuk perhatian bantuan usaha dan sebagainya. Sebab, kondisi rumahnyapun sangat tidak layak untuk ditempati 6 orang tanpa kamar dan terbuat dari gedek. Apalagi rata-rata anaknya masih usia sekolah, bahkan ada yang terpaksa putus sekolah. Meskipun pernah mendapat bantuan rumah tidak layak huni (RTL), namun menurut Salam, percuma kalau hanya bahan material dan pemberiannya bertahap, sehingga sebagian bahan dan uangnya keburu habis dan hingga saat ini belum terbangun juga. “Yang bagus, seperti bantuan pagar rumah di televisi itu. Dan kalau melihat sendiri kondisi rumah dia sangat layak mendapat seperti itu,”pungkas Salam. ( Ren, Esha )