Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 31-03-2015
  • 7507 Kali

Filosofi Kuna Madura Perlu Dihidupkan Lagi

News Room, Rabu ( 01/04 ) Budaya Madura, khususnya Sumenep begitu luas. Di dalamnya juga kaya dengan bermacam ungkapan atau “parebhasan” (peribahasa) yang mengandung filosofi tinggi. Namun, seiring dengan perubahan jaman, hanya sedikit orang Madura yang tahu banyak mengenai berbagai budaya yang sudah hampir menjadi “orang asing” bagi generasinya sendiri itu. 

“Ya, begitulah kondisinya saat ini. Jangankan budayanya yang beragam, bahasanya saja sekarang sudah bercampur baur dengan bahasa lain. Jadi, sudah tidak original,”kata salah seorang pemerhati budaya di Sumenep, Drs. H. Ahmad Baisuni, pada News Room, Rabu (01/04).

Kondisi ini selaras dengan yang diungkapkan salah seorang pemerhati pendidikan di Sumenep, Rabiatul Adawiyah, S.Pd. Menurut salah seorang guru di SMPN 1 Saronggi ini, budaya Sumenep sudah bercampur baur dengan budaya-budaya luar, sehingga banyak generasi sekarang sudah mulai bingung, bagaimana sebenarnya yang merupakan budaya asli Madura.

“Kalau kata peribahasa Maduranya "padana dangdang" atau seperti burung gagak,”tambah ibu dari 2 anak ini, pagi tadi, sambil tersenyum. Bagaimana yang dimaksud “padana dangdang” itu ? Rabiatul menjelaskan, gagak atau manok dangdang kata orang Sumenep, menurut legendanya dulu merupakan burung yang memiliki suara paling bagus dan cara berjalan yang paling baik.

Namun, dangdang sering meniru suara dan cara berjalan binatang lain, sehingga pada akhirnya, dangdangpun lupa cara berkicau yang baik dan cara berjalan yang baik.

“Suara dangdang jadi serak dan menakutkan, serta berjalannyapun berubah menjadi meloncat-loncat,” imbuhnya. Guru Matematika yang juga diberi tugas tambahan pengampu pelajaran Bahasa Madura ini berharap peribahasa-peribahasa ini terus lestari. Seperti peribahasa yang terkenal, “mon bagus pabagas, mon soghi pasogak, mon kerras akerres” menunjukkan karakter orang Madura yang tegas.

“Ada lagi, peribahasa "padana embik kacang", atau seperti kambing yang kecil tapi sok merasa paling pintar. Ini sebuah pelajaran bagi orang yang selalu mengkritik orang lain, tapi ketika disuruh memimpin, malah tidak bisa apa-apa. Jadi yang bagus itu mencontoh "embik dhumba" atau kambing yang berbadan besar yang tidak banyak bicara, namun selalu bisa ditempatkan di mana saja. Disuruh mimpin bisa, menjadi anak buah juga loyal. Jadi intinya harapan saya, filosofi kuna Madura harus dihidupkan. Banyak manfaat yang bisa dipetik,”pungkasnya. ( Farhan, Esha )