News Room, Senin ( 13/07 ) Tongkat dalam Islam memiliki makna yang tidak sekadar penyangga tubuh saat berjalan di usia renta. Tongkat bahkan memiliki filosofi mendalam. Sejarah juga mencatat, memakai tongkat merupakan kebiasaan di masa Rasulullah SAW, sahabat, dan para pewarisnya, ulama.
“Makanya, tokoh ulama jaman dulu kebanyakan bertongkat, kendati masih belum udzur,”kata K. R. Nurul Hidayat, salah seorang guru di TPA Al-Hikmah, Jalan Mutiara Kelurahan Bangselok.
Menurut putra ke dua K. R. Ismail Wongsoleksono ini, dalam kitab Al-Umm karya Imam Asy-Syafii dijelaskan, bahwa seorang mukmin yang sudah berumur 40 tahun ke atas disunnahkan memakai tongkat atau asho.
“Disamping mencontoh kebiasaan para nabi juga memiliki makna simbolik. Tongkat itu disimbolkan huruf alif wahdaniyyah. Hal itu bisa diartikan orang yang sudah berumur 40 tahun ke atas haruslah bisa berpegang kukuh pada wahdaniyatullah atau ketunggalan Allah SWT, kata alumnus TMI Al-Amien Prenduan ini.
Lebih lanjut, Gus Nurul atau Kiyai Nurul atau Ustadz Nurul, panggilan akrabnya, mengatakan jika menggunakan tongkat merupakan kiasan untuk menjadikan sunnah Nabi sebagai sandaran kokoh dalam kehidupan beragama. “Dalam bahasa Jawanya, ini (tongkat; red) disebut teken. Di Madura disebut tongket,”tutupnya sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )