Sumenep-Infokom News Room : Balai Bahasa Surabaya akan mengadakan lomba penulisan puisi berbahasa Madura tahun 2006 bagi pelajar, mahasiswa dan santri se Jawa Timur, di Balai Bahasa Surabaya Jl. Siwalanpanji Buduran Sidoarjo, September mendatang. Lomba tersebut merupakan salah satu bentuk upaya menghidupkan kembali bahasa Madura yang saat ini mengalami kemunduran. “Saat ini bahasa Madura mengalami kemunduran, karena generasi muda dan orang Madura sendiri malu menggunakan bahasanya dalam percakapan sehari-hari,� kata Ketua Panitia Lomba Penulisan Puisi berbahasa Madura 2006, Arif Izzak, SS ditemui di Balai Bahasa Surabaya, Rabu (01/03). Dikatakannya, tujuan dari lomba ini adalah untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap karya-karya sastra, khususnya sastra Madura selain memberikan wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan daya cipta dan kreatifitas di bidang sastra serta menumbuhkan sikap positif dan kecintaan masyarakat terhadap karya sastra bahasa Madura. “Bahasa Madura memang layak kita bina, agar bisa berkembang dan tetap lestari, apalagi juga mengingat bahasa Madura tercantum pada urutan ketiga dari 726 bahasa daerah yang ada di Indonesia dengan jumlah penutur lebih dari 10 juta orang�, jelasnya. Arif juga menjelaskan, lomba ini baru pertama kalinya diselenggarakan dan mengambil tema “Maduraku, Budayaku dan Tumpah Darahku�. “Dari temanya, memang lomba ini lebih diprioritaskan untuk orang Madura, tapi tidak menutup kemungkinan orang dari luar Madura juga bisa ambil bagian untuk mengikuti lomba ini�, tambahnya. Lomba ini diadakan dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2006 dan Gebyar ke 28 Balai Bahasa Surabaya. Persyaratan dalam lomba ini antara lain, puisi tidak mengandung pornografi dan tidak berpotensi menimbulkan konflik SARA, dan harus asli karya sendiri (bukan saduran atau terjemahan) serta belum pernah diterbitkan atau dipublikasikan. Arif menuturkan, penilaian mencakup isi, teknik penulisan dan bahasa, termasuk gaya bahasa dan pilihan kata. Untuk naskah puisi dikirimkan ke Balai Bahasa Surabaya Jl. Siwalanpanji, Buduran Sidoarjo hingga tanggal 09 September 2006. �Pendaftaran memang kita mulai Maret, dengan waktu yang begitu lama, kita berharap antusias peserta semakin besar�, ujarnya. “Hambatan dalam lomba ini adalah tidak adanya tulisan baku mengenai bahasa Madura, untuk itu kedepannya kita berusaha untuk membuat kamus bahasa Madura dan transkip (terjemahan) bahasa Madura ke dalam bahasa Indonesia, agar bahasa Madura bisa dimengerti oleh masyarakat luas�,tuturnya Arif berharap, dengan lomba ini orang Madura tidak lagi menyembunyikan statusnya dan mereka akan bangga menggunakan bahasa Madura dalam percakapan sehari-hari. Dari lomba ini akan diambil 3 pemenang sebagai Juara I, II, dan III serta sepuluh karya terbaik yang akan diterbitkan dalam bentuk majalah. Hal ini juga dimaksudkan untuk memicu orang-orang Madura mengembangkan dan melestarikan bahasanya. ( Info Jatim, Esha )