Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 27-01-2006
  • 4417 Kali

MENGAIS EMAS DI PEKARANGAN RUMAH SENDIRI

Sumenep-Infokom News Room : Aneh tapi nyata, mungkin kalimat itu yang pantas dilontarkan terhadap pekarangan milik Sa’imin (62) warga Dusun Tembing Desa Banjar Barat Kecamatan Gapura. Karena, di pekarangan tersebut, setiap tahunnya pada musim penghujan terdapat emas. Menurut Sa’imin, yang merupakan keturunan dari Nyi Saniba yang konon dikabarkan semasa hidupnya tidak pernah mandi itu, keluarnya emasnya tersebut sejak tahun sekitar 1940-an, ketika salah satu keluarganya bermimpi, bahwa di pekarangan rumahnya terdapat emas yang merupakan titipan dari Nyi Arjang dan Ki Arjang. Namun, masyarakat setempat enggan menginformasikan kejadian tersebut kepada Camat maupun pihak Kepolisian. Karena, mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sa’imin menerangkan, setelah beberapa tahun, keberadaan emas tersebut akhirnya diinformasikan juga kepada Camat maupun Polsek, melalui Kepala Desa. Sehingga, pada tahun 1995 Pemerintah Daerah mencoba meninjau lokasi tersebut dengan membawa alat teropong. Anehnya, ketika dilakukan penelitian, emas tersebut tidak kelihatan atau tidak nampak, sehingga pemda menyatakan lahan tersebut bukan tambang emas. Selanjutnya Sa’imin menjelaskan, hingga saat ini pihaknya memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat untuk mencari emas, ketika hujan turun. Karena, emas itu akan kelihatan setelah hujan reda. Sa’imin mengaku, tidak pernah membatasi siapa saja yang akan mencari emas di pekarangan rumahnya. Sementara itu, hal senada juga dilontarkan Kepala Desa Banjar Barat, H. Zakri Mursidi. Ia menerangkan, perolehan emas sejak tahun 2003 hingga 2005 lalu, dari hasil penemuan di pekarangan rumah milik Sa’imin tersebut dinilai lebih banyak dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya, yakni sebanyak 30 gram per-tahun. Namun, Zakri menuturkan, hasil penjualan emas itu tidak semuanya di konsumsi oleh masyarakat, akan tetapi sebagian kesil hasil penjualan emas tersebut dibelikan ketupat yang kemudian warga sekitar melakukan syukuran, sebagai bentuk keselamatan. ( Nita, Esha )