News Room, Selasa ( 07/07 ) Pondok Pesantren Mathaliul Anwar merupakan salah satu ponpes ternama di Sumenep, khususnya di kawasan Kecamatan Kota Sumenep. Ponpes ini didirikan oleh salah seorang kiai kharismatik Sumenep, KH. Abdullah bin Husein.
“Kalau secara pastinya, tidak ada catatan tertulis mengenai waktu atau tahun berdirinya Pondok Pesantren Mathaliul Anwar ini. Cuma yang saya tahu, Kai (ayah; red) mulai morok (mengajar) sejak umur 15 tahun,”kata KH. M. Shaleh Abdullah saat bercerita tentang sejarah singkat berdirinya Pondok Pesantren Mathaliul Anwar yang terletak terpisah antara pondok putra dan putri ini, pada News Room.
Menurut Kiai Shaleh, Kiai Abdullah lahir pada tahun 1917 Masehi. Sebelum mendirikan Pondok Pesantren, Kiai Abdullah mondok atau mengaji pada Kiai Haji Miftahul Arifin, Pajinggaan Kelurahan Bangselok.
Lepas itu, Kiai Abdullah juga mengaji pada Kiai Haji Abisyujak Kebunagung, dan merupakan santri kesayangan. “Jadi, kalau dihitung dari tahun lahir Kai, dan usia pertama kali morok, kemungkinan pesantren ini berdiri di tahun 1930-an,”kata Kiai Shaleh.
Pertama kali, lokasi pondok terletak di Desa Pangarangan. Namun sejak sekitar tahun 1961, Kiai Abdullah pindah ke Kelurahan Kapanjin, yaitu yang sampai sekarang menjadi lokasi pondok putri di jalan Meranggi.
“Setelah kakak saya Kiai Said kembali dari mondoknya, beliau membantu mengasuh pondok sampai Kai wafat tahun 1984. Pondok pun mulai berkembang pesat, bahkan sudah mulai ada lembaga pendidikan formal hingga jenjang MA untuk santri putra maupun putri,”kisahnya.
Pada tahun 1990, yakni sekembalinya Kiai Shaleh dari mondoknya di Pesantren Sidogiri, Kiai Said pindah ke Desa Pangarangan dan seluruh santri putra ikut serta, sehingga yang di Kepanjin hanya tinggal santri putri, dan Kiai Shaleh yang ditunjuk sebagai pengasuh atau penanggung jawab.
“Namun, khusus santri putri yang sudah sekolah MA dipindah ke Pangarangan, yakni gedung madrasahnya di belakang kediaman Kiai Said. Jadi, yang di sini ini hanya sampai jenjang Madrasah Tsanawiyah,”jelasnya.
Salah satu pesan dari Kiai Abdullah yang selalu diingat oleh Kiai Shaleh ialah agar selalu berpegangan pada kitab suci Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari dan sekaligus mengamalkan isinya.
Sejak kiai Abdullah, ada beberapa kitab wajib yang selalu diajarkan pada santri, yakni Tafsir Jalalain, Al-Hikam, dan Fathul Muin. “Namun, kini khusus di santri putri hanya pengajian tafsir dan Fathul Muin. Sedangkan yang Al-Hikam di pondok putra,”kata Kiai Shaleh.
Menurut Kiai Shaleh, Kiai Abdullah dulunya seorang penghulu. Beliau juga disebutnya sebagai penganut thariqah Naqsyabandiyah Muzhhariyah. Namun, sebagaimana yang dikatakan kiai Shaleh, Kiai Abdullah tidak pernah mengarahkan putra-putrinya untuk masuk ke dalam dunia thariqah. “Kiai hanya berpesan, agar selalu berpegangan pada Al-Quran dan Hadits. Jangan sampai terlepas dari keduanya,”ujar ayah 5 anak ini. ( Farhan, Esha )