Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 24-02-2014
  • 497 Kali

26 Tahun, Kakak Beradik Lumpuh Tinggal Di Gubuk Reyot

News Room, Senin ( 24/02 ) Sungguh malang nasib Sumaryono (26), dan Irwan (16), warga Dusun Palegin, Desa Longos, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep. Dua anak kakak beradik ini menderita lumpuh sejak lahir, dan tinggal digubuk reyot, bekas kios pasar milik Pemerintah setempat. Selain lumpuh, keduanya juga mengalami keterbelakangan mental tidak seperti anak normal pada umumnya. Dan, sejak berumur 10 tahun kedua anak ini ditinggal mati ibu tercintanya, Sumiati. Ia meninggal dunia. Sejak itu, keduanya dirawat oleh neneknya, Misnati dan kakeknya Abdurrahman. Sedangkan ayahanda kedua anak malang ini kawin lagi. Perawatan bagi keduanya dilakukan ala kadarnya, sebab nenek dan kakeknya tidak punya biaya. Tragisnya lagi, kedua anak ini tidak punya tempat tinggal, sebab rumah Misnati sang nenek roboh diterjang angin. Hingga saat ini belum dapat membangun rumah lagi. Abdurrahman, kakek Irwan, mengatakan, selama ini dirinya tidak pernah mendapat bantuan berupa apapun dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep. Hanya saja, sesekali ada warga dan organisasi perempuan yang datang untuk memberi bantuan, namun bukan bantuan resmi seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai) atau pun raskin. “Kami tidak tahu harus mengurus kemana untuk mendapat bantuan semacam itu. Dari pada bingung, ya saya diam saja. Tapi, alhamdulillah masih ada masyarakat yang peduli,”tuturnya. Ia mengungkapkan, semenjak rumahnya roboh, ada bantuan dari pihak Kecamatan berupa batubata. Namun dibiarkan begitu saja. “Kalau bantuan batubata dari pihak kecamatan ada, tapi kami kan tidak punya uang untuk membeli bahan material lainnya agar dapat membangun rumah. ya hingga saat ini kami tidak punya tempat tinggal,”ungkapnya. Untuk sementara, kakek dan nenek beserta dua kakak beradik yang lumpuh itu, terpaksa meminta belas kasihan pihak kecamatan untuk bisa menempati sebuah gubuk reyot dan bolong-bolong terbuat dari bambu dan gedek, yang dulunya merupakan kios pasar. Sementara Misnati, sang nenek, harus berjuang keras demi menghidupi kedua cucu tercintanya. Ia terpaksa berjualan rujak dan kopi di sebuah warung di dekat gubuk reyot yang mereka tempati itu. “Dari hasil berjualan rujak dan kopi tiap hari, kami terkadang hanya dapat mengumpulkan uang Rp. 30.000,00, bahkan pernah memperoleh Rp. 10.000,00 satu hari,”ujar Misnati. Ia berharap ada uluran tangan dari semua pihak untuk memberikan bantuan, supaya dapat membangun rumahnya, karena gubuk reyot yang ditempatinya pada musim hujan ini bocor. Akibatnya seringkali 2 anak yang lumpuh ini basah dengan air hujan. ( Nita, Esha )