Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 01-09-2025
  • 734 Kali

Agustus 2025, BPS Umumkan Kabupaten Sumenep Alami Deflasi

Media Center, Senin ( 01/09 ) Kabupaten Sumenep kembali mengalami deflasi sebesar 0,11 persen dan inflasi sebesar 1,71 persen selama periode 2025 (year to date) pada Agustus 2025. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Y-on-Y) justru mengalami inflasi sebesar 2,69 persen.

"Kabupaten Sumenep pada bulan ini mengalami penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,71 pada Juli 2025 menjadi 111,59 pada Agustus 2025 atau dengan kata lain pada Agustus 2025 kita mengalami deflasi sebesar 0,11 persen secara M-to-M," ungkap Kepala BPS Kabupaten Sumenep, Joko Santoso dalam konferensi persnya, Senin (01/09/2025).

Adapun secara tahunan Kabupaten Sumenep masih mengalami inflasi sebesar 2,69 persen, masih dalam batas target inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Dari sisi kelompok pengeluaran tercatat bahwa pada Agustus 2025, tujuh kelompok keluaran mengalami inflasi dan dua kelompok pengeluaran tidak mengalami perubahan IHK (stabil), tercatat hanya ada dua kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau serta kelompok pengeluaran transportasi.

"Kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,43 persen dengan andil terhadap deflasi umum Kabupaten Sumenep mencapai 0,15 persen. Adapun kelompok pengeluaran transportasi mengalami deflasi sebesar 0,06 persen dengan andil terhadap deflasi umum mencapai 0,01 persen," tandasnya.

Sedangkan kelompok pengeluaran penyumbang inflasi terbesar di Kabupaten Sumenep adalah kelompok pengeluaran kesehatan yang mengalami inflasi sebesar 0,45 persen  dengan andil sebesar 0,01 persen, serta kelompok pengeluaran pendidikan yang mengalami inflasi sebesar 0,17 persen dengan harga sebesar 0,01 persen.

"Berdasarkan komoditas penyumbang inflasi dan deflasi terbesar, deflasi Agustus 2025 di Kabupaten Sumenep secara dominan didorong oleh turunnya harga komoditas tomat sebesar 60,29 persen, cabe rawit turun sebesar 45,29 persen dan bahan bakar rumah tangga turun sebesar 5,47 persen. Sedangkan komoditas yang mendorong dari sisi penyumbang inflasi adalah komoditas beras mengalami kenaikan harga 1,74 persen, garis air minum PDAM mengalami kenaikan harga 21,65 persen dan udang basah naik 10,73 persen," jelas Joko Santoso. ( Ren, Fer )