Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 13-03-2012
  • 387 Kali

Aksi Mahasiswa Sumenep Tolak BBM Naik, Nyaris Ricuh

News Room, Rabu ( 14/03 ) Aksi unjuk rasa 50 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Sumenep di Kantor DPRD setempat, menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), pada Rabu (14/03) pagi, nyaris ricuh. Kejadian itu, dipicu sebagian anggota dewan tidak mau menandatangani menolak kenaikan BBM, sehingga ditengah hujan deras mengguyur lokasi demo, Mahasiswa berusaha menerobos pintu pagar Kantor DPRD Sumenep, yang sedang dijaga ketat aparat kepolisian bersama satpol PP. Akibatnya, mahasiswa dan polisi terjadi aksi saling dorong. Dilanjutkan pemblokiran jalan didepan gedung DPRD dari 2 sisi. Aksi blokir jalan berakhir ketika seluruh mahasiswa diijinkan masuk ke teras DPRD Sumenep. Para mahasiswa menuntut, agar pimpinan DPRD keluar menemui mereka dan menandatangani surat pernyataan menolak kenaikan harga BBM. Apabila Pemerintah tetap menaikkan harga BBM, berarti duet SBY-Boediono dianggap gagal dan mereka harus mundur. “Kami BEM Sumenep menolak harga BBM dinaikkan. Karena, rencana ini bukan solusi tepat untuk menyelamatkan APBN tanpa mempertimbangkan dampak krusialnya. Kalau harga BBM dipaksakan naik, akan mempengaruhi harga sembako dan merugikan rakyat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah,”kata Zainollah, korlap aksi didepan gedung DPRD Sumenep, Rabu (14/03). Untuk itu, para aktivis meminta wakil rakyat menandatangi penolakan kenaikan harga BBM. Dan tak berlangsung lama, dua anggota DPRD Sumenep, yakni Wakil Ketua DPRD, Faisal Muchlis, S.Ag, dan anggota KH. Abd. Hamid Ali Munir, SH keluar dan menemui para pengunjuk rasa. Faisal dan Hamid bersedia menandatangani surat pernyataan menolak kenaikan harga BBM. “Saya secara pribadi sepakat dengan mahasiswa, menolak kenaikan harga BBM. Saya dari Fraksi PKB, mendukung gerakan mahasiswa!,”tegas KH. Abd. Hamid. Sementara Faisal Muhlis juga menyatakan hal serupa, mendukung mahasiswa untuk menolak kenaikan harga BBM. “DPRD Sumenep secara kelembagaan juga mendukung penolakan kenaikan harga BBM. Saya sebagai unsur pimpinan DPRD, menyatakan menolak kenaikan harga BBM, karena dipastikan berdampak pada banyak hal,”ungkap Faisal. Dukungan itu dibuktikan dengan menandatangani surat pernyataan menolak kenaikan harga BBM. Dihari yang sama, aksi penolakan kenaikan harga BBM juga dilakukan aktifis DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sumenep. Mereka melakukan aksi di bundaran kota Sumenep, berorasi sambil menyebar ratusan selebaran, “Tolak kenaikan harga BBM, Tolak liberalisasi migas”. ( Nita, Esha )