Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 08-07-2026
  • 57 Kali

Sumenep dalam Cerita; Urgensi Kajian dan Penelusuran Asal usul Nama Desa

Media Center, Rabu (08/07) Toponimi atau kajian tentang nama tempat (toponim) di kawasan Kabupaten Sumenep pada khususnya masih belum dilakukan secara masif ataupun tersendiri. Padahal setiap rupa bumi (topografi) pada umumnya memiliki asal usul penamaan sebagai pembeda antar tempat. Namun informasi tentang asal usul penamaan tempat dewasa ini mulai perlahan memudar—kalau tidak mau dikatakan hilang—di benak generasi kekinian. Padahal pengetahuan tersebut merupakan bagian dari identitas budaya suatu tempat, rekaman sejarah masa lalu, sekaligus salah satu sumber untuk mengenali potensi lingkungan suatu wilayah.

Bulan ini, Media Center Diskominfo Sumenep melakukan kegiatan penyusunan sejarah asal usul nama-nama desa di beberapa kecamatan di Kabupaten Sumenep, khususnya dimulai dari wilayah daratan. Beberapa tempat diketahui kesulitan menggali sumber data karena keterputusan informasi, dan beberapa lainnya memiliki versi-versi yang tidak utuh alias masih berceceran dalam ingatan sebagian warga. Hal tersebut tentu saja juga, nantinya tidak menutup kemungkinan dikolaborasikan dengan sumber lain semisal tulisan lama atau melalui lisan tokoh-tokoh pemerhati sejarah di luar lokasi penelusuran. Untuk selanjutnya dikomparasikan (sebelum dianalisis) dan pada akhirnya disimpulkan tanpa menutup diri dari koreksi jika terdapat beberapa kesalahan di kemudian hari.

Dari hasil penelusuran awal, sedikitnya toponimi dipengaruhi oleh tiga hal, sejarah terjadinya kejadian tertentu di wilayah tersebut, legenda atau cerita rakyat setempat, dan fenomena alam yang spesifik di suatu daerah.

Tentu saja sebagai bagian dari proses pelestarian budaya dan pengenalan sejarah lokal bagi generasi penerus, memerlukan peran serta banyak pihak. Sebagaimana yang dipesankan dan diharapkan Bupati Sumenep H. Achmad Fauzi Wongsojudo dalam acara pelantikan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sumenep periode 2026-2029 di awal Mei 2026 lalu, bahwa setiap upaya pelestarian budaya maupun sejarah harus juga didukung semua elemen. “Jadi tidak hanya pemerintahnya, maupun para ahli di bidang sejarah dan budaya, tapi juga perlu partisipasi masyarakat secara umum,” ujarnya.

Terlebih lagi, identitas suatu bangsa berdasarkan budaya dan sejarahnya. Sehingga ketika hal tersebut hilang dari ingatan generasinya, maka raib pula jatidiri kebangsaannya.

Ke depan, Media Center akan menyajikan secara bertahap maupun acak tentang sejarah asal usul nama-nama desa di Madura Timur. Yuk, ikuti ulasan-ulasan selanjutnya.

(Mohammad Farhan Muzammily)