Media Center, Jumat (10/07) Gapura merupakan salah satu
kecamatan di kawasan timur daya Kabupaten Sumenep. Secara administratif, kecamatan
ini membawahi 17 desa. Berdasarkan Publikasi Kecamatan Gapura dalam Angka 2025
oleh BPS (Badan Penelitian Statistik) Sumenep, kecamatan ini memiliki luas total
area 65,88 kilometer persegi.
Di samping menjadi nama kecamatan, dewasa ini Gapura juga
menjadi nama tiga nama desa, yakni Desa Gapura Barat, Gapura Tengah, dan Desa
Gapura Timur. Gapura Barat berada tepat di pusat kecamatan, sementara Gapura Tengah
berada 1 kilometer dari pusat kecamatan, dan Gapura Timur sekira 4 kilometer
lebih jauh lagi.
Gapura Barat memiliki luas 3,66 kilometer persegi, sedangkan
Gapura Tengah 4,99 kilometer persegi, dan Gapura Timur berluas 2,63 kilometer
persegi.
Seperti dalam pengantar tulisan beberapa waktu lalu, Media
Center Diskominfo Sumenep melakukan kegiatan kajian dan penelusuran asal usul nama-nama
desa di Sumenep secara bertahap maupun acak. Karena tiga desa di atas memiliki
akar nama yang sama yakni Gapura, maka dianggap sebagai satu pembahasan kajian.
GAPURA
Secara bahasa, Gapura bermakna pintu gerbang. Dalam lidah
Madura, kata ini—khususnya dalam melafalkan nama kecamatan sekaligus desa—dilafalkan
Gappora dengan makna yang kurang lebih sama. Menurut buku Sejarah Sumenep (2003),
gapura disebut berasal dari salah satu sifat Allah SWT, Ghafur. Kata tersebut
berasal dari Bahasa Arab, ghafara-yaghfiru-ghufranan. Al-Ghafur sendiri
bermakna Yang Maha Pengampun. Secara filosofis, penamaan gapura sebagai pintu
gerbang menurut para sepuh, mengandung harapan agar setiap orang yang masuk melalui
pintu tersebut atau melewatinya mendapat pengampunan dari Yang Maha Kuasa.
Dalam perkembangannya, gapura digunakan sebagai pintu masuk
kawasan bangunan tertentu dan sakral, seperti masjid, keraton, permulaan jalan
perumahan atau kampung, dan lain sebagainya.
Kembali pada asal usul nama Gapura, menurut salah satu sumber,
di kawasan ini dahulu terdapat satu pintu masuk yang dibangun oleh seorang
penguasa Sumenep di masanya.
“Menurut cerita turun-temurun, disebut Gapura karena di sini
dibangun pintu gerbang besar, atau yang dikenal dengan gapura,” kata Rahmat
Hidayat, Sekdes Gapura Barat kepada Media Center, beberapa waktu lalu.
Namun, pintu gerbang tersebut saat ini sudah tidak ada lagi,
namun sebagai penanda dibangun gantinya. “Kalau yang asli sudah tidak ada lagi,
entah sejak kapan waktunya,” jelas Rahmat.
Secara detil, kisah tersebut tidak bisa dipastikan masa
kejadiannya, dan siapa tokoh yang membangunnya. Namun menunut Iktoyo, Bendahara
desa Gapura Barat, kisah tersebut memiliki kaitan dengan tokoh legendaris Keraton
Sumenep, Jokotole. “Hanya saja hal tersebut mesti ditelusuri lagi mengingat
sumber-sumbernya sudah agak sulit didapat,” ujarnya.
Sementara menurut sumber lain, pintu gapura yang diceritakan Rahmat dan Iktoyo tersebut memiliki kaitan dengan salah satu Raja Sumenep yang bernama Aria Wigananda. Wigananda menurut Babad Songennep (1914) merupakan putra sekaligus pengganti Jokotole. Keduanya diperkirakan hidup di abad 15 Masehi.
Kabarnya, di wilayah Gapura sekarang pernah berdiri pusat pemerintahan di Sumenep pada masa Wigananda. Wilayah tersebut menjadi lokasi baru ibukota keraton dari sebelumnya di arah barat (Banasare) ke arah timur Kecamatan Kota Sumenep sekarang.
Bersambung.
(han)