Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 15-07-2026
  • 15 Kali

Asal usul Nama-nama Desa di Kecamatan Gapura (Bagian 2)

Media Center, Selasa (14/07) Makam Aria Wigananda sendiri diyakini berada di Desa Gapura Barat, tepatnya di Kampung Talese’. Warga menyebutnya Buju’ Wigonanda. Mengenai bekas pemerintahannya tidak bisa dipastikan.

Dengan demikian, beberapa penamaan tempat di sekitar Gapura Barat atau secara umum di Kecamatan Gapura diduga masih memiliki kaitan dengan era pemerintahan Wigananda atau pasca tokoh tersebut.

MANDALA

Mandala secara ejaan sama dengan teks dalam Bahasa Madura, namun dengan pelafalan yang berbeda. Desa ini berada di antara Desa Gapura Tengah dan Gapura Timur. Dari pusat kecamatan, letak Desa Mandala sekira 3 kilometer ke arah timur. Sedangkan dari pusat kabupaten, desa ini berjarak 16 kilometer. Dari 17 desa di Kecamatan Gapura, Mandala merupakan desa dengan luas terkecil, yaitu 1,64 kilometer persegi.

Asal usul penamaan Desa Mandala masih belum jelas. Menurut Sekdes Mandala Fawaid, hingga saat ini pihak pemdes sendiri masih melakukan penelusuran atau pencarian data. Sejauh ini para sesepuh yang ada juga tidak mengetahui asal mula maupun makna penamaan Mandala sebagai nama desa di situ.

“Terus terang kami sendiri masih mencari tahu soal itu,” aku Fawaid kepada Media Center Diskominfo Sumenep beberapa waktu lalu.

Hanya saja menurut cerita tutur, di pusat desa saat ini, tepatnya di utara balai desa, dahulu merupakan tempat dikumpulkannya para warga oleh petinggi wilayah.

“Dari kisah orang-orang tua yang dikenal hingga saat ini, dulu di sini merupakan tempat warga jika dipanggil untuk berkumpul melalui tiupan terompet,” jelasnya.

Secara bahasa, khususnya Jawa kuna yang kemungkinan serapan dari Bahasa Sansekerta, Mandala memiliki makna lingkaran atau pusat. Sehingga jika ditarik benang merahnya dengan kisah tempat dikumpulkannya warga atau memusatkan para warga di suatu tempat, penamaan Mandala sebagai nama desa mengacu pada lokasi tersebut. Yang lambat laun menjadi cikal bakal penyebutan desa itu di kemudian hari.

GRUJUGAN

Secara administratif, desa ini tertulis dengan nama Grujugan. Namun dalam pelafalannya, lidah warga menyebut dengan Garujugan.

Desa Grujugan terletak sekira 6 kilometer ke arah timur dari pusat kecamatan. Desa ini memiliki luas 3,46 kilometer persegi.

Secara etimologi, Grujugan atau Grujugan memiliki dua kisah dari peristiwa sejarah dan kondisi alam setempat. Garujugan berasal dari kata garujuk, yang kurang lebih maknanya melempari sesuatu secara beramai-ramai dengan benda keras semisal batu. Dalam sebuah sumber, konon hal itu dikaitkan dengan perlawanan warga setempat dalam peristiwa perang antara Sumenep dan Bali di abad 16 Masehi.

Namun dari hasil wawancara Media Center dengan perangkat Desa Grujugan, asal mula penamaan desa tersebut justru tidak merujuk pada kisah di atas. Melainkan dari grojog atau air terjun di sekitar wilayah tersebut di masa lalu.

“Dulu ada air terjun di salah satu bukit di sini. Namun sekarang sudah tinggal bekasnya. Dari saking derasnya, bunyi air terjun tersebut terdengar di seluruh desa, makanya disebut Garujugan,” kata Laksono, Sekdes setempat.

Bersambung.

(Han)