Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 20-07-2026
  • 230 Kali

Asal usul Nama-nama Desa di Kecamatan Kota Sumenep (Bagian 1)

Media Center, Senin (20/07) Kecamatan Kota Sumenep terletak di pusat kabupaten. Sehingga sekaligus kecamatan ini juga bisa disebut sebagai ibukota Madura Timur.

Sumenep yang menurut beberapa sumber berasal dari paduan kata song (cekungan) dan ennep ([yang] dalam) secara geografis terlihat sebagai benteng alami di masa lampau. Sehingga tempo doeloe, kawasan kota saat ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan, baik sejak era feodal (masa Kerajaan atau keraton hingga masuknya VOC), kolonial (pasca VOC), neo feodal (feodalisme gaya baru) hingga era kemerdekaan NKRI.

Kecamatan ini membawahi 12 desa dan 4 kelurahan. Luas total kecamatan 29,21 km². Sebagai pusat kota, wilayah ini menyimpan banyak peninggalan sejarah yang sifatnya monumental, mulai dari bangunan keraton, masjid jami’, kawasan pemakaman raja-raja di Asta Tinggi, dan lain sebagainya.

PABIAN

Secara historis, Pabian merupakan salah satu desa di Kecamatan Kota Sumenep yang memiliki beberapa informasi sekaligus peninggalan sejarah dan budaya penting di Madura Timur.

Pabian berasal dari Pabean yang kata dasarnya bea (pungutan pajak). Jadi di masa lampau terutama di abad-abad 16, 17, hingga paruh pertama 20, wilayah ini menjadi satu paket dalam kawasan Kota Tua di Sumenep bagian timur (mulai dari Pabian hingga Kalianget dan sekitarnya).

“Jadi karena dulunya di wilayah ini merupakan instansi atau kantor pemungutan pajak atau bea di era lampau, maka kemudian desa ini dikenal dengan nama Pabian,” kata Kepala Desa Pabian Zulfikar Ali Mustakim kepada Media Center.

Hingga saat ini desa yang luasnya 4,49 km² tersebut dikenal sebagai salah satu wilayah di Sumenep yang heterogen, khususnya dalam hal memeluk agama. Meski secara mayoritas masyarakatnya beragama Islam, Pabian menjadi simbol kerukunan antar umat beragama sejak dulu. Hal itu bisa terlihat dari tiga bangunan tempat ibadah lama yang berdiri berdekatan, yaitu Masjid Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, dan Klenteng Pao Sian Lin Kong. Ketiganya berada di Jalan Slamet Riyadi dan hanya dipisahkan oleh jalan raya sekaligus aliran Sungai Marengan.

Tidak hanya itu, Pabian juga memiliki beberapa bangunan bersejarah seperti bangunan sekolah sejak era kolonial dan beberapa bangunan kantor, salah satunya kantor RRI saat ini.

PABERASAN

Desa ini juga memiliki kaitan erat dengan Sumenep di tempo dulu. Secara administratif, ejaan desa ini mengalami penyesuaian dengan EYD, yakni Paberasan. Dalam Bahasa Madura, dieja dan dilafalkan Paberrasan. Kata ini dari asal kata beras atau berras dengan imbuhan awal (pa) dan akhir (an). Sehingga secara sederhana bermakna kurang lebih penghasil dan pemasok beras.

“Di sini dulu memang merupakan pemasok beras pada era keraton. Dulu di sini ada pelabuhan dengan gudang berasnya, jadi beras dari sini juga diangkut melalui jalur laut ke wilayah-wilayah kepulauan dan lainnya di kawasan Sumenep khususnya. Sehingga kemudian wilayah ini dikenal dengan sebutan Paberasan,” kisah Kades Paberasan Rahman Saleh.

Di era kini, Paberasan tidak terlena dengan predikat sejarah sebagai “lumbung” pangan keraton. Terbukti, inovasi Kades Rahman dalam bidang peternakan penggemukan sapi berhasil menjadi program andalan desa.

“Kita serahkan pengelolaan pada warga. Modal dari desa. Sistemnya bagi hasil keuntungan 60-20-20. Yang ngurus langsung ternaknya 60 persen, RT 20 persen, dan 20 persen lagi ke kas desa,” jelas Rahman.

“Awalnya 15 ekor lalu berkembang menjadi 60 ekor,” imbuhnya.

Bersambung.

(Han)