Media Center, Senin (20/07) Kecamatan Kota Sumenep terletak
di pusat kabupaten. Sehingga sekaligus kecamatan ini juga bisa disebut sebagai
ibukota Madura Timur.
Sumenep yang menurut beberapa sumber berasal dari paduan
kata song (cekungan) dan ennep ([yang] dalam) secara geografis
terlihat sebagai benteng alami di masa lampau. Sehingga tempo doeloe, kawasan
kota saat ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan, baik sejak era feodal (masa
Kerajaan atau keraton hingga masuknya VOC), kolonial (pasca VOC), neo feodal
(feodalisme gaya baru) hingga era kemerdekaan NKRI.
Kecamatan ini membawahi 12 desa dan 4 kelurahan. Luas total
kecamatan 29,21 km². Sebagai pusat kota, wilayah ini menyimpan banyak peninggalan
sejarah yang sifatnya monumental, mulai dari bangunan keraton, masjid jami’, kawasan
pemakaman raja-raja di Asta Tinggi, dan lain sebagainya.
PABIAN
Secara historis, Pabian merupakan salah satu desa di Kecamatan
Kota Sumenep yang memiliki beberapa informasi sekaligus peninggalan sejarah dan
budaya penting di Madura Timur.
Pabian berasal dari Pabean yang kata dasarnya bea (pungutan
pajak). Jadi di masa lampau terutama di abad-abad 16, 17, hingga paruh pertama
20, wilayah ini menjadi satu paket dalam kawasan Kota Tua di Sumenep bagian
timur (mulai dari Pabian hingga Kalianget dan sekitarnya).
“Jadi karena dulunya di wilayah ini merupakan instansi atau
kantor pemungutan pajak atau bea di era lampau, maka kemudian desa ini dikenal
dengan nama Pabian,” kata Kepala Desa Pabian Zulfikar Ali Mustakim kepada Media
Center.
Hingga saat ini desa yang luasnya 4,49 km² tersebut dikenal
sebagai salah satu wilayah di Sumenep yang heterogen, khususnya dalam hal
memeluk agama. Meski secara mayoritas masyarakatnya beragama Islam, Pabian
menjadi simbol kerukunan antar umat beragama sejak dulu. Hal itu bisa terlihat
dari tiga bangunan tempat ibadah lama yang berdiri berdekatan, yaitu Masjid
Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, dan Klenteng Pao Sian
Lin Kong. Ketiganya berada di Jalan Slamet Riyadi dan hanya dipisahkan oleh
jalan raya sekaligus aliran Sungai Marengan.
Tidak hanya itu, Pabian juga memiliki beberapa bangunan
bersejarah seperti bangunan sekolah sejak era kolonial dan beberapa bangunan
kantor, salah satunya kantor RRI saat ini.
PABERASAN
Desa ini juga memiliki kaitan erat dengan Sumenep di tempo
dulu. Secara administratif, ejaan desa ini mengalami penyesuaian dengan EYD,
yakni Paberasan. Dalam Bahasa Madura, dieja dan dilafalkan Paberrasan. Kata
ini dari asal kata beras atau berras dengan imbuhan awal (pa) dan akhir
(an). Sehingga secara sederhana bermakna kurang lebih penghasil dan pemasok
beras.
“Di sini dulu memang merupakan pemasok beras pada era
keraton. Dulu di sini ada pelabuhan dengan gudang berasnya, jadi beras dari
sini juga diangkut melalui jalur laut ke wilayah-wilayah kepulauan dan lainnya
di kawasan Sumenep khususnya. Sehingga kemudian wilayah ini dikenal dengan
sebutan Paberasan,” kisah Kades Paberasan Rahman Saleh.
Di era kini, Paberasan tidak terlena dengan predikat sejarah
sebagai “lumbung” pangan keraton. Terbukti, inovasi Kades Rahman dalam bidang
peternakan penggemukan sapi berhasil menjadi program andalan desa.
“Kita serahkan pengelolaan pada warga. Modal dari desa. Sistemnya
bagi hasil keuntungan 60-20-20. Yang ngurus langsung ternaknya 60 persen, RT 20
persen, dan 20 persen lagi ke kas desa,” jelas Rahman.
“Awalnya 15 ekor lalu berkembang menjadi 60 ekor,” imbuhnya.
Bersambung.
(Han)