Media Center, Jumat (24/07) Kebunagung sejatinya berasal dari dua kata (terpisah); kebun dan agung. Dalam sebuah manuskrip abad 19, Kebunagung sudah dikenal sebagai salah satu desa di Kadipaten Sumenep. Desa ini ditulis dengan ejaan Kebon Agong.
Di peta (kaart) lama era kolonial, daerah ini memiliki
bukit bernama Asta (diketahui merujuk pada Asta Tinggi). Menurut Huub de Jonge
dalam catatan tentang relasi antara desa dan keraton, penduduk desa ini pada
abad 19 mengabdi pada Pangeran dan Kolonel, serta kebayan. Mereka dibebaskan
dari semua pungutan (pajak) dan memiliki mata pencaharian menjual tikar rotan.
Asal usul penamaan Kebunagung tidak lepas dari topografinya.
Menurut Kepala Desa Kebunagung Bustanul Affa, wilayahnya dahulu merupakan tanah
perkebunan sekaligus persawahan yang luas. Ditambah juga posisinya di dataran
tinggi yang sejuk, karakteristik tanahnya subur, memiliki sumber air dan aliran
sungai yang lebar.
“Sedangkan sebutan agung yang bermakna besar, karena di
dataran tinggi ini disemayamkan jasad para orang-orang agung, yaitu Raja-Raja
di Sumenep pada masanya, yang kemudian dikenal dengan sebutan Asta Tinggi,” jelasnya
kepada Media Center.
Selain Asta Tinggi, Kebunagung juga memiliki objek wisata bersejarah yang dikenal dengan Goa Jeruk. Goa ini pernah menjadi tempat khalwat (menyepi atau bertirakat) tokoh-tokoh Keraton Sumenep di era kuna.
“Nanti juga
kita akan rencanakan menanam pohon jeruk sekitar itu, untuk menambah daya
tariknya. Jadi di samping mengunjungi goa, juga ada objek wisata buah, sesuai
nama goanya, wisata buah jeruk,” imbuh Bustanul Affa.
Hingga saat ini, sedikitnya tercatat enam kepala desa atau
kalebun yang memerintah di Kebunagung. Sedangkan sebelum itu belum ditemukan
datanya. Berikut nama-nama Kalebun Kebunagung sejak sekitar 1950-an:
-
Sudaya (sebelum tahun 1955)
-
Abd. Azis (1955-1958)
-
Ahmad Mukhsan (1958-1991)
-
Moh. Ramli ( 1991-2007)
-
Fajar Nur Alam ( 2007 - 2019)
-
Bustanul Affa (2020 – sekarang)
Secara administratif,
Desa Kebunagung terletak sekitar 3 km dari ibu kota Kecamatan Kota Sumenep. Desa ini memiliki luas wilayah 228 ha, dan terdiri dari empat dusun; yaitu Dusun
Bara’ Lorong, Temor Lorong, dan Daja (utara) Jembatan dengan batas-batas
wilayah sebagai berikut :
-
Sebelah
Utara Desa Lalangon
-
Sebelah
Timur Desa Pandian
-
Sebelah
Selatan Desa Babbalan
-
Sebelah
Barat Desa Batuan
Bersambung.
(Han)