Sumenep-Infokom News Room : Pemulangan Jamaah Haji Indonesia (JHI) diwarnai berbagai kekacauan. Sebagian besar penerbangan pesawat ketanah air, baik Garuda Indonesia maupun Saudi Arabia Airlines (SAA), mengalami penundaan tanpa alasan yang jelas. Hingga berita ini ditulis pukul 15.30 WAS (atau pukul 19.30 WIB tadi malam), sedikitnya enam kloter atau sekitar 3.000 jamaah masih terlantar di pintu keberangkatan terminal haji Bandara King Abdul Azis International (KAAI) Jeddah. Itu belum termasuk sejumlah jamaah dari Makkah yang masih dalam perjalanan menuju Jeddah. Kondisi tersebut diperparah prosedur ketat Maskapai penerbangan yang membatasi barang bawaan jamaah. Garuda dan SAA hanya menoleransi tas jinjing dan sebotol air zamzam ukuran lima liter dengan total berat 35 kg yang bisa dibawa jamaah ke kabin. Barang bawaan lebih, harus ditinggal di bandara tanpa kejelasan kapan diterbangkan ke tanah air. Sebagian jamaah asal Indonesia terlihat tidak sabar menunggu. Mereka terpaksa uring-uringan dengan puluhan petugas haji yang dikoordinasi Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi. Ada jamaah yang mengamuk setelah penjelasan petugas dianggap kurang memuaskan, dan petugas sering menjadi sasaran fisik kekalapan jamaah. Ketua Kloter SUB 06 Masrukin mengaku bahwa sebagian jamaahnya tidak terkontrol. Kloter gabungan dari Kota Surabaya dan Kabupaten Madiun tersebut merasa dipermainkan menyusul adanya ketidak jelasan jadwal pemulangan. Sesuai jadwal pesawat SV 5040 (yang mengangkut SUB 06) terbang pada 16 Januari pukul 03.30. WAS. Tapi, petugas SAA memberi tahukan penundaan hingga pukul 16.00. Dan mereka direncanakan tiba di Bandara Juanda Surabaya, pada 17 Januari 2006 pukul 17.40 WIB. “Kami meminta pertanggung jawaban petugas, kalau pesawat delay, mengapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya ? Mengapa kami tetap diberangkatkan dari makkah ? Juga mengapa sesampai di bandara kami tidak mendapatkan boarding pass ?� ujar Masrukin yang ditemui di Bandara KAAI kemarin. Soal adanya insiden fisik yang melukai petugas, dia minta maaf karena tidak bisa mengendalikan emosi jamaahnya. Sementara itu Ketua PPIH di Arab Saudi, Nur Samad Kamba menyesalkan sikap maskapai penerbangan yang tidak memberikan informasi soal sejumlah penundaan kedatangan pesawat yang mendarat di Bandara (KAAI) Jeddah. Sebab, setiap penundaan pesawat selalu berdampak pada lamanya masa tunggu jamaah di bandara. “Terus terang kami mengkomplain Garuda dan SAA yang tidak mengumumkan adanya penundaan pesawat. Ini menimbulkan permasalahan antara jamaah dan petugas haji di Bandara Jedah�, jelasnya setelah rapat evaluasi di Gedung TUH KJRI Jeddah. ( JP, Esha )