News Room, Rabu ( 30/09 ) Budaya ketimuran memang terkesan ribet alias kurang praktis. Jika kaca perbandingan yang dipakai adalah budaya kebarat-baratan, budaya kita memang lebih kental dengan istilah "basa-basi".
Kita memang lebih suka berputar-putar terlebih dulu saat menuju tujuan. Padahal dalam skala normal, "tujuan" itu sebenarnya tak banyak amat memakan waktu dan biaya. Murah meriah. Namun dibanding budaya barat, budaya kita memang terkesan lebih halus.
Lepas dari kesan kesombongan, lebih cenderung berhati-hati, dan lebih banyak pertimbangan. Contoh kecil, coba lihat saat para akademisi kita memberikan pengantar untuk karya tertulisnya, pasti akan ada kalimat yang menyatakan bahwa karyanya itu masih jauh dari kesempurnaan. Padahal logikanya, untuk apa karyanya disajikan jika masih "cacat".
Makanya untuk calon pelajar kita yang mau bertolak ke negeri paman Sam, jangan coba bersopan santun dengan kalimat baku kita, jika tak ingin tugas akhirnya dilempar oleh sang dosen karena dianggap belum selesai.
Menurut Mohammad Jauhari, pemerhati budaya di Sumenep, ketidak praktisan budaya kita hampir terjadi sepanjang hidup. “Tak ada masalah sebenarnya, jika tak disertai dengan keterpaksaan,”katanya pada News Room.
Jauhari menyontohkan untuk Madura, masyarakat Sumenep khususnya mulai sejak menjadi calon manusia (baca: di dalam kandungan Ibu) hingga bersemayam dalam pusara, penuh dengan pernak-pernik adat.
Mulai dari selamatan pelet kandung (tujuh bulanan); molang are (selamatan 40 hari pasca kelahiran); toron tanah (selamatan bagi bayi berusia 7 bulan yang disimbolkan dengan menjejakkan kaki bayi ke bumi); arabhas paghar/nyabak jhajhan (bagi yang mau bertunangan); resepsi pernikahan (setelah aqad nikah); hingga selamatan tahlilan lok tellok (3), tok pettok (7), pak polo (40), nyatos (100), nyaebu (1000) hari hingga haul pasca kematian.
Jauhari menambahkan, semua ketidakpraktisan itu pada suatu saat nanti mungkin tidak lagi menjadi alternatif. Pun, seandainya masih harus ada, mungkin tak lebih dari sekadar simbol budaya yang harus dilestarikan.
“Dari segi agama dan manfaat, praktek-praktek ini sulit dicari benang merahnya. Agama Islam tak pernah mempersulit penganutnya. Menikah misalnya, cukup dengan yang sudah disyaratkan agama. Seandainya harus berkaitan dengan materi, hal-hal semacam mahar dan nafakah dikembalikan kepada kerelaan isteri, sesuai dengan kemampuan suami,”tambahnya.
Terpisah, KR Nurul Hidayat, salah satu guru di salah satu TPA di Sumenep mengatakan, bahwa tidak semua tradisi tersebut tidak memiliki benang merah dengan agama. Tahlilan misalnya, menurut Nurul hanya kemasan. Namun, di sana banyak aktivitas yang disunnahkan.
Ia menyebut bahwa dalam tahlil itu diisi dengan dzikir-dzikir yang membaca sunnah. Di sana juga ada kegiatan silaturrahim dan sedekah, yang tentu saja juga berhukumkan sunnah. “Jadi memang butuh kearifan untuk menimbang semua itu,”tutupnya. ( Farhan, Esha )