Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 03-10-2014
  • 505 Kali

Bulan September, Inflasi Sumenep Sebesar 0,25 Persen

News Room, Jumat ( 03/10 ) Pada bulan September 2014, Sumenep mengalami inflasi sebesar 0,25 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,16. Laju inflasi Sumenep ini dibawah Jawa Timur yang berada diposisi 0,33 persen dan nasional sebesar 0,27 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Suparno menjelaskan, Inflasi September tersebut menurun dibandingkan Agustus kemarin yang sebesar 0,31 persen. “Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah daging ayam ras, beras, cabai merah, tongkol pindang, bahan bakar rumah tangga, upah pembantu rumah tangga, tarif listrik, tongkol segar, cakalang dan tongkol panggang. Kenaikan harga daging ayam ras sebagai penyumbang inflasi terbesar,”kata Suparno, Jumat (03/10). Menurutnya, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yakni kelompok bahan makanan sebesar 0,33 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,03 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,87 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,12 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,05 persen. “Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebagai penyumbang inflasi terbesar, karena akibat kenaikan bahan bakar rumah tangga berupa elpiji sebesar 3,0300 persen dengan sumbangan inflasi sebesar 0,0638 persen, yakni sesuai kenaikan harga dasar elpiji ukuran 12 kilogram non subsidi yang dikeluarkan PT. Pertamina dari semula Rp. 92.800,00 naik menjadi Rp. 114.300,00 per-tabung,”terangnya. Suparno mengungkapkan, dari 8 kota IHK di Jawa timur, semua mengalami inflasi. Namun Sumenep berada diperingkat ke 4. “Inflasi tertinggi terjadi di Jember dan Surabaya, masing-masing sebesar 0,41 persen, diikuti Kediri sebesar 0,34 persen, Malang sebesar 0,26 persen, Sumenep sebesar 0,25 persen. Kemudian Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,11 persen, dan Madiun sebesar 0,07 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Probolinggo sebesar 0,04 persen,”ungkapnya. ( Nita, Esha )