Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 09-01-2009
  • 292 Kali

Calon Legislatif Unsur Perempuan Harus Berkompetisi Sendiri

News Room, Jum’at ( 09/01 ) Setelah terbitnya Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang Pemberlakukan Sistem Kompetisi Penuh, ternyata banyak mendapat respon dari kalangan calon legislatif. Termasuk juga persoalan 30 persen pada nomor urut 1 yang banyak diributkan Parpol. Rupanya sistem kompetisi merupakan langkah tepat untuk sama-sama berusaha mencari simpati di masyarakat. Menurut Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPD) Sumenep, Dra. Hj. Endang Sri Rahayu, saat ini persoalan keterwakilan 30 persen pada nomor urut sudah tidak perlu diributkan lagi, pasalnya, dengan kompetisi penuh, semua kader berpeluang untuk tampil berkompetisi selama mereka bisa diterima di masyarakat. “Silahkan semua berbuat, baik kader pria dan wanita yang mencalonkan diri sebagai Caleg di masing-masing Dapil. Yang menentukan nomor jadi, tidak tergantung mereka sendiri,”ujar Endang. Anggota Dewan Sumenep, yang juga Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumenep ini mengaku prihatin dengan pola pemikiran masyarakat yang cenderung berpikir sempit tentang peran perempuan ditengah-tengah masyarakat saat ini. Sebenarnya tegas Hj. Endang, itu justeru disebabkan perempuan itu sendiri yang tidak bisa menempatkan dirinya, sehingga banyak masyarakat yang cenderung melecehkan, bahkan terkesan memandang sebelah mata terhadap peran perempuan yang terkadang over action. Seharusnya, perempuan dan laki-laki tetap memiliki hak sama selama tidak keluar dari kodrat. Hanya saja, pemikiran dan cara pandang masyarakat juga harus bisa diselami. Misalnya saja, aktifis perempuan yang terkadang ingin menghilangkan budaya yang biasa dilakukan dimana dia tinggal. Dicontohkan, pakaian levis maupun jean bagi perempuan yang ternyata dikalangan masyarakat pesantren maupun pedesaan masih dianggap tidak biasa. Sebab baju yang dipakai biasanya kebaya maupun jubah. Seharusnya, jangan tanggalkan kebiasaan dan budaya yang sudah lama ada. Dan jangan malah ingin terlihat modis dan gaul, namun membuat orang pada miris. ( Ren, Esha )