Sumenep-Kominfo News Room : Seni pertunjukan rakyat (Pertura) harus memiliki ciri-ciri, komunikatif, inovatif dan adaptatif yang tinggi. Hal ini dikarenakan para pelaku seni telah menggeluti keseniannya dengan jangka waktu sangat panjang. Para pelakunya harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan waktu dan tempat serta isu yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Hal itu terjadi karena mereka saling kenal betul antara sesama pemain yang selanjutnya dapat mengekspresikan dan berimprovisasi di atas pentas. Ungkpan ini disampaikan Dewan Pengamat Festival Pertunjukan Rakyat (Pertura) KIM II Jember dari Surabaya Heri Prasetyo yang sehari-harinya akrab dipanggil Heri Lenhto pada JNR di H Lestari Jember, Jumat (31/8). Dengan alasan itulah maka dalam perkembangan budaya bangsa ini, kesenian rakyat dijadikan alat untuk memobilisasi massa. Sebut saja kesenian Ludruk, Wayang Kulit, Kentrung, Ketoprak, Jangger, Sandur. Dengan kesenian rakyat tersebut pemerintah atau penguasa pada saat itu hingga sekarang dapat menyalurkan tema-tema yang diinginkannya. Dalam pemilihan lakon (cerita), Ceritera rakyat dan legenda merupakan sumber ceritera yang dapat dijadikan materi pementasan, agar penonton lebih akrab dengan tokoh yang akan diperankan oleh pemain. Para kreator hanya memberikan sentuhan tema-tema yang harus dijadikan penekanan misi pementasannya hal inilah membuat pertunjukan memiliki nilai yang lebih, artinya tontonannya tidak hanya murni tontonan belaka, namun tontonan yang menitik beratkan tuntunan masyarakat. Kerangka tontonan rakyat yang menitik beratkan tuntunan atau ajaran tentang nilai-nilai kebaikan yang diemban pemerintah ini dalam perkembangan zaman yang modern mengalami “ketertinggalanâ€,. Hal ini disebabkan banyaknya media informasi lain yang dengan mudah menghampiri rumah-rumah penonton (rakyat). Keadaan seperti inilah akan menjadi tantangan yang semakin berat bagi para pelaku kesenian rakyat. Festival Kesenian Rakyat dalam rangka Gebyar KIM II Jawa Timur yang diselenggarakan sudah 2 kali ini, bertujuan untuk mencari bentuk-bentuk tontonan baru yang inovatif dan cerdas serta mudah diterima masyarakat. Ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh Pemerintah, pemilik usaha media dan pelaku seni; kenapa kesenian rakyat itu sekarang tidak begitu disukai oleh rakyat ? Seperti kita ketahui bersama, bahwa sekarang kita sudah jarang melihat dan mendengar program-program yang mengangkat kesenian rakyat baik di koran-koran,radio-radio bahkan ditelevisi. Jika sudah tidak memiliki daya pikat yang lebih, mungkin kesenian rakyat hanya sekedar pelengkap muatan lokal saja. Pada tahun 1980-an, dimedia cetak ada yang mengangkat kidungan, geguritan, markesoan, dan ceritera wayang yang berlatar belakang ceritera rakyat. Di radio ada dongeng, ludruk, wayang, kentrung dan ketoprak serta drama radio yang berlatar belakang fiksi sejarah yang selalu menemani pendengarnya. Namun semua itu mengalami penurunan dan saat ini hanya tinggal ceritera keterpurukannya saja. Selain hal mendasar itu, fenomena pertumbuhan kesenian rakyat juga mengalami kegagalan regenerasi. Fenomena ini sedang terjadi di kesenian ludruk, seperti buyut dan nenek saya mengenal ludruk nya cak Kartolo, Orang tua dan saya kenal ludruk, bahkan anak sayapun akan mengalami kejadian serupa jika media untuk mengenalkan kesenian itu hanya pelakunya sama. Pelaku kesenian rakyat seharusnya melakukan regenerasi yang dapat memunculkan pelaku yang dapat diterima sebayanya, coba jika kita melihat perjalanan TheRising Star di dunia musik, disetiap era selalu dikawal oleh tokoh musiknya yang baru, bahkan anak sekarangpun didampingi oleh kelompok musik sebayanya seperti Radja,Samson,Letto dan Ungu. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah para pelaku seni sudah menyiapkan regerasi itu, dan mestii harus segera dijawab, sebab perkembangan zaman yang sangat cepat tidak bisa dijawab dengan kemalasan dan keras kepala mempertahankan ego. Selain fenomena itu, Ketertinggalan kesenian rakyat juga ditandai kurangnya sikap inovatif para pelakunya. Mereka masih selalu berdebat layak dan tidaknya sebuah tontonan yang mencoba keluar dari jalur (pakem). Ketoprak humor, Lenong Rumpi, Yook NgeLenong , merupakan sebuah tontonan yang dipacu dengan sikap inovatif tinggi untuk selalu menyapa penontonnya dengan kreatif dan selalu memunculkan sesuatu yang baru. Sekarang, kita dapat memetik buah dari ketertinggalan itu, dengan sebuah langkah dan semangat baru, yaitu tidak berhenti berinovasi, agar rakyat sebagai penopang tumbuhnya kesenian rakyat itu selalu setia menikmati dan mendukung pertumbuhan kesenian rakyat. Bagi peserta yang memiliki potensi kesenian rakyat yang kuat tidak akan mengalami kesulitan dalam menyajikan pertunjukkan dengan sebuah tema yang diangkatnya, akan tetapi bagi peserta yang mencoba merangkai dari berbagai potensi kesenian yang dimilki itu akan terlihat sekali kegagapan dalam merangkainya, sehingga dapat menyebabkan kesatuan sajian agak terganggu. Mengemas kesenian rakyat adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah, jika dikerjakan dalam waktu yang singkat pastilah karya yang dihasilkan tidak optimal, sehingga keseluruhan sajian pada festival kali ini sangat mencerminkan itu. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi serta persiapan-persiapan yang panjang sehingga hal ini tidak terulang untuk yang ketiga kalinya nanti. Dalam menyampaikan misi dan visi dalam sebuah pertunjukan terlihat menjadi beban berat dalam festival kali ini, seakan-akan beban itu harus selalu dinomor satukan sehingga banyak sajian yang bertutur tentang tema-tema dan jargon-jargon pembangunan saja, sehingga sajian nampak kaku dan kurang menyatu dalam sebuah ceritera yang dibawakan. Seni Pertunjukan Rakyat cirinya yang kuat adalah komunikatif dan dekat denga penonton (rakyat), hal inilah yang menjadi kendala dalam kegiatan ini,saya tidak menyalahklan namun perlu dijadikan catatan yang tebal baik bagi peserta dan penyelenggara festival. Sebab materi yang akan ditampilkan sebaik apapun jika tidak difasilitasi media pertunjukan; misalnya panggung, lampu, sound systemnya, tempat penonton, tempat persiapan pemain yang represetatif maka pertunjukannyapun tidak akan bisa optimal. Bahasa sebagai media utama dalam menyampaikan misi mungkin bisa menggunakan bahasa Indonesia, akan tetapi dalam sajian kesenian rakyat bahasa daerah yang sudah melekat itu tetaplah harus dipertahankan. Karena kehadiran bahasa Indonesia, roh kesenian rakyat itu menjadi kaku. Sebagai solusinya diperlukan sebuah pengantar atau pembacaan jalannya ceritera agar penonton lebih memahami jalannya sebuah pertunjukkan yang komonikatif dan mengena pada sasarannya. ( JNR,Ong )