Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 17-01-2012
  • 339 Kali

Desak Hentikan PT. Santos, Warga Unjuk Rasa Didepan DPRD

News Room, Selasa ( 17/01 ) Sebanyak sepuluh warga Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, berunjuk rasa didepan gedung DPRD setempat, pada Selasa (17/01) pagi. Mereka menuntut PT. Santos ditutup atau dihentikan aktivitasnya, karena dana bagi hasil minyak dan gas (migas) selama ini dianggap tidak jelas. Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Kasmito mengatakan, sudah saatnya PT. Santos ditutup, selain kompensasi tak jelas, aktivitas eksploitasi merusak mata pencaharian nelayan setempat, seperti rumput laut rusak dan susah mendapatkan ikan laut. “Kami juga sempat mendengar kalau PT. Santos akan eksploitasi dengan menambah satu sumur lagi. Ini yang kami tidak inginkan karena nelayan diperairan Giligenting semakin dirugikan. Makanya Pemerintah Kabupaten Sumenep harus putus kontrak dengan PT. Santos,”kata Kasmito, di gedung DPRD Sumenep, Selasa (17/01). Kasmito mengaku prihatin dengan ketidak jelasan dana bagi hasil migas. Padahal, PT. Santos beroperasi diperairan Sumenep sejak tahun 2007 lalu. “Tahun 2007, PT. Santos melakukan eksploitasi di Sumenep. Tapi, dana bagi hasil migas disedot Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Tahun 2008, Sumenep sudah memenangkan gugatan yudicial review, namun sampai tahun 2011 dana bagi hasil belum masuk Sumenep,”terangnya. Bahkan dana CSR (Corporate Social Responsibility) sebesar Rp. 4 milyar per-tahun, juga tidak jelas. Puas berorasi, 5 perwakilan pengunjuk rasa menemui Komisi B DPRD Sumenep, untuk menyampaikan aspirasinya. Usai pertemuan, anggota Komisi B DPRD Sumenep, Darul Hasyim menjelaskan, pihaknya menyambut baik aspirasi warga tersebut. “Namun kami belum bisa berkomentar banyak, karena baru sepihak keterangan yang didengar. Untuk itu, kami jadwalkan akan mempertemukan warga sekitar penghuni areal eksploitasi dengan PT. Santos, BP Migas, serta Kantor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumenep,”ungkapnya. Darul berharap warga benar-benar mengawal aspirasinya hingga akhir. “Jangan sampai aspirasi yang diperjuangkan dilepas ditengah jalan. Sampaikan semua keluhan itu ketika tatap muka dengan BP Migas dan ESDM,”pungkasnya. ( Nita, Esha )