Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 15-03-2015
  • 1984 Kali

Diganjal Masalah Ejaan, Bahasa Madura Mulai Kritis

News Room, Senin ( 16/03 ) Tak hanya hampir menjadi “bahasa asing” bagi sebagian warganya, bahasa Madura juga mulai “sakit keras”. Bahkan salah satu praktisi bahasa Madura, Drs. H. Ahmad Baisuni yang mengaku sangat miris melihat kondisi Bahasa Madura saat ini, tanpa ragu-ragu menyebut kondisi bahasa Madura sudah kritis. 

“Disamping itu, terus terang saya secara pribadi tidak bisa melakukan apa-apa, karena jalan keluarnya hampir bisa dikatakan tidak ada,”tambahnya pada Newsroom, saat ditemui di kediamannya di Jalan Widuri Nomor 29 Kelurahan Bangselok.

Menurut H. Baisuni, kendala utamanya masih seputar ejaan. Beberapa pihak disebutnya masih tidak bisa menyatukan persepsi mengenai ejaan bahasa Madura yang baku. “Padahal, saya kira sudah final dengan adanya sarasehan Bahasa Madura tahun 1973. Nah, ini mulai ada lagi yang ikut Balai Bahasa untuk dikembalikan ke ejaan lama, dan mau disinkronkan dengan ejaan bahasa Indonesia. Lha, kalau begini ‘kan kemunduran namanya,”ujar mantan Kasi Kebudayaan Kantor Dikbud Sumenep ini.

Menurut H. Baisuni, ejaan hasil sarasehan di Pamekasan tahun 1973 merupakan ejaan yang paling baku. Paling-paling menurut H. Baisuni kalau terpaksa dirinya mengaku bisa menerima jika huruf /e/ pepet diberi tanda, dia kritik sebagaimana EYD. “Seperti kata toles misalnya. Saya sepakat kalau itu mau diberi tanda, untuk membedakan dengan vocal /e/ taleng,”tambah penasihat Tim Nabhara (Pembina Bahasa Madura) Kabupaten Sumenep ini.

Namun untuk kosa kata lain, semisal kata towa, menurutnya tidak bisa mengikuti EYD dengan diubah menjadi toa. Karena akan kehilangan makna saat kata itu mengalami reduplikasi. “Contohnya, ketika diulang harus ditulis wa-towa, tidak bisa jika ditulis a-toa. Maknanya bisa hilang,”jelasnya.

Belum lagi jika kata towa yang direduplikasi menjadi wak-towaan atau memakai tanda baca bhisat (). Disamping tak ada maknanya, dibacanya juga lucu menurut H. Baisuni jika ditulis wak-toa an.

Problematika seputar ejaan ini menurut H. Baisuni hanya satu di antara banyak masalah yang mendera eksistensi bahasa Madura. Tapi yang paling sulit diatasi menurutnya, memang masalah penyingkronan ejaan bahasa Madura, yang setiap Kabupaten beda pendapat.

“Jadi, ini penyakit utamanya. Kalau ini tidak bisa diobati, susah untuk menyehatkan bahasa Madura,”pungkasnya. ( Farhan, Esha )