News Room, Rabu ( 29/04 ) Seperti halnya Bahasa Madura yang nasibnya berada di tangan para penuturnya, begitu pula nasib kebudayaan Keraton Sumenep di tangan para keturunan bangsawan di Kabupaten paling timur di Nusa Madura ini. Apalagi Sumenep masih memiliki bukti fisik dari simbol kejayaan masa lalu, yakni keraton yang saat ini dijadikan sebagai Rumah Dinas Bupati.
“Kita bukan ingin berjalan mundur. Atau sekadar membangkitkan romantisme sejarah, namun ini merupakan kewajiban sekaligus tanggung jawab moral selaku pewaris dari kebudayaan keraton, untuk menjaga sekaligus melestarikannya,”kata RB. Moh. Muhlis, salah seorang dari keluarga keturunan Raja Sumenep dinasti terakhir, pada News Room.
Menurut putra almarhum RB. Moh. Danafia atau Gus Emmat Pote, pensiun Kepala Gudang PN. Garam Kalianget ini, kebudayaan Keraton Sumenep masih berserakan dan berceceran di tangan kalangan famili keraton. Hal itu menurutnya harus disatukan secara utuh, sehingga tidak tampil sepotong-sepotong.
“Ini tidak baik. Padahal, jika diinventarisir dan diorganisir secara baik, budaya keraton kita pasti tidak kalah dengan budaya keraton-keraton di Jawa. Karena masih satu rumpun. Nah, kenapa di Jawa bisa, karena di sana solid, simbolnya yakni raja atau sultannya ada,”tambah guru PNS di Kangayan ini.
Di Sumenep, menurutnya tidak harus ada simbol raja, namun yang diharapkannya para keluarga bangsawan selaku pemangku adat bisa solid.
“Kalau itu bisa berjalan, maka insha Allah aset-aset keraton, seperti budaya dan peninggalan-peninggalan keraton bisa terjaga, dan bisa lestari,”katanya.
Senada, salah seorang sesepuh dari keluarga Keraton Sumenep, RB. Mohammad Mangkuadiningrat mengatakan, bahwa para famili harus segera disatukan, agar satu visi dan misi dalam menjaga kebudayaan keraton.
“Jadi, jangan jalan sendiri-sendiri, atau tampil sendiri-sendiri. Kita punya wadah, dan yang penting kita harus bersatu dan menjaga soliditas,”kata putra almarhum Mayor R. Ario Mangkuadiningrat ini.
Oleh karena itu, menurut pensiunan Dinas Sosial Kabupaten Sumenep ini, semua pihak harus dilibatkan, baik kalangan tua ataupun yang muda. “Jadi, kita tidak boleh alergi pada generasi muda.
Siapapun yang punya pemahaman dan wawasan luas tentang sejarah dan kebudayaan keraton harus dilibatkan,” tambahnya.
Terpisah, salah satu generasi muda keraton, RB. Deni Fahrurrazi menyambut baik dengan adanya keinginan untuk menyatukan para famili keraton.
“Iya, ini penting. Karena kalau tidak, maka budaya keraton tidak akan pernah bisa utuh. Jadi, disini kita tidak bicara usia, tapi siapa yang mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik,”kata pria yang masih lajang ini. ( Farhan, Esha )