Sumenep-Kominfo News Room : Unsur pimpinan pemerintahan bangsa ini dinilai belum menjalankan fungsi kehumasan secara optimal. Akibatnya, citra Indonesia di dunia internasional belum juga membaik. Kondisi ini terasa ironis, mengingat perang informasi yang sangat mempengaruhi citra sebuah bangsa di dunia saat ini sudah tidak terelakkan. Pandangan ini diungkapkan kalangan praktisi kehumasan (Public Relation/PR) nasional dan internasional menjelang diselenggarakan Konferensi PR Tingkat Regional Asia Tenggara yang digelar oleh Internasional Public Relations Association (IPRA) di Nusa Dua, Bali (5-6/09). “Harus diakui, pemimpin bangsa ini belum begitu memahami persoalan kehumasan yang seharusnya dilakukan terhadap dunia luar. Akibatnya, citra buruk bangsa ini yang terus melekatâ€, kata Teddy Kharsadi. selaku Ketua IPRA Indonesia. Teddy menegaskan, ketidak mampuan dalam menjalankan prinsip kehumasan membuat Indonesia akan selamanya dicitrakan sebagai negara lemah dalam mengatasi berbagai persoalan. Mulai dari masalah korupsi, kemiskinan, serta lingkungan hidup, hingga perhubungan yang berakibat pada pencekalan maskapai nasional diwilayah udara Uni Eropa saat ini. “Padahal kita sebenarnya tahu, pemerintah sudah melakukan upaya-upaya khusus untuk menanggulangi aneka persoalan itu. Hanya sayangnya, penjelasan ke dunia luar masih kurang gencar dan elegan, sehingga citra negatif bangsa ini lebih kuat kesannyaâ€, kata Teddy. Presiden IPRA di tingkat internasional tahun 2007, Philip Shepard menyatakan, citra baik sebuah bangsa berkaitan erat dengan citra bangsa (country branding) yang dimiliki. Namun, secara jujur hal itu sama sekali belum dimili oleh sebuah bangsa besar, seperti Indonesia. Atas kondisi itu, ia mengaku sangat menyayangkan. “Fungsi sebuah branding, sama sekali tidak melulu untuk mengangkat pariwisata, tapi bisa mengangkat segala hal termasuk citra di dunia politik. Di era saat ini, ketika dinamika dunia begitu cepat dengan perang informasi yang begitu gencar, maka bangsa tanpa branding, akan tertinggal dibelakangâ€, kata Philip. ( KCM, Esha )